questions

Gadis itu turun dari panggungnya. Setelah semua dialog dari peran yang ia mainkan tadi, hatinya masih saja perih. Kali ini beban yang ia tanggung menjadi dua kali lipat lebih besar, tak ingin dunia salah paham dengan perasaannya sekarang, maka dari itu dia memutuskan untuk menyimpannya sendiri.

Sebetulnya ia hanya ingin kata maaf dari orang yang dicintainya itu, tapi meskipun saat ini tempatnya sudah teroyak, sayangnya tak ada satu pun manusia lain yang mengajukan tangan. Rasa tidak percaya dengan takdir semakin menguat, ia bertekad hanya akan mengandalkan diri sendiri.

Tujuan dari akhir cerita kali ini, sama sekali tak mau ia  dengar. Dia ingin sekali pulang, menutup pintu kamarnya rapat-rapat tanpa menggenggam satu pun rasa sakit hatinya. Perjalanan ini belum selesai, tapi langkahnya semakin berat.

Kurang lebih sudah satu tahun lamanya aku meninggalkan ibu kota, dikarenakan pandemi yang belum ada tanda-tanda membaik, akhirnya tepat pada bulan September 2020, aku memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Setelah satu tahun di sini, aku mulai terbiasa dengan suara jangkrik, terbiasa dengan mie ayam langgananku yang hampir menjadi menu makan siang setiap hari, aku pun sudah cukup akrab dengan penjual mie tek tek dekat rumah yang sekarang sudah akrab juga dengan ibuku. 

Ternyata meskipun aku benci bisingnya jakarta, selain ramen dan ayam spicy mcd aku merindukan kota ini dengan banyak alasan. salah satunya adalah, aku rindu dengan "the art of living alone". aku kangen sekali jam 5 pagi jalan-jalan ke tukang sayur, aku juga kangen perjalanan menuju kantor, kangen cilok di depan kantor yang menjadi favoriteku, kangen boba family mart yang menurutku harganya paling masuk akal dari pada tempat lain.

Tahun depan aku sudah membuat janji dengan beberapa teman, dan juga janji kepada diri sendiri untuk memberanikan diri menonton film di bioskop sendirian hahaha tapi sebetulnya jauh dari itu semua, aku sangat berharap semua akan segera membaik, dan aktifitas bisa kembali normal, sudah banyak temu yang berulang-ulang direschedule. Semoga ya, semoga saja...

Bulan Desember nanti, aku rencana akan berkunjung sebentar ke Jakarta, cant wait!

Here we go again, akhirnya saya memutuskan untuk menonaktifkan sosial media saya kembali, kali ini jangka waktunya jujur masih belum tau sampai berapa lama. Singkat cerita, sebetulnya kemarin di bulan maret saya sudah menonaktifkan sosial media selama kurang lebih dua bulan, lalu dengan beberapa pertimbangan dan godaan akhirnya saya memutuskan untuk mengaktifkannya lagi, lalu sekarang saya merasa perlu menarik tuas saya kembali. 

Saya merasa butuh memperkecil kotak lingkungan yang saya miliki. Biasanya di media sosial saya bisa terhubung dengan orang-orang, yang bahkan kadang gak saya kenal sama sekali, anehnya meskipun tidak memiliki keterkaitan dengan orang tersebut namun saya malah komparasi diri, merasa tidak "cukup". Saya merasa harus lebih seperti ini, saya harus berubah menjadi  seperti itu dan saya harus bisa lebih dari sekarang. 

Begitu rumit pikiran manusia, dari banyaknya waktu dalam sehari rasanya  24 jam itu belum cukup untuk saya bisa mendalami apa saja yang ada di dalam otak. Saya ingin menambah waktu lagi, atau kalo bisa malah ingin pindah ke planet yang berbeda, yang mungkin di sana saya bisa memiliki waktu lebih banyak, tapi namanya juga manusia ya semakin bertambahnya waktu, pasti juga semakin banyak kegiatan tambahan lainnya juga.

Oh iya, selain itu sekarang ini saya menjadi sering tidak fokus, saya sering lupa "tadi mau ngapain ya?" atau parahnya malah pas lagi harus berbicara di depan orang banyak (secara virtual tentunya) kadang tiba-tiba saya menanyakan hal yang sama kembali, maka dari itu saya berusaha untuk lebih mindfulness dan mencoba monotasking saja. Fokus dengan apa yang sedang saya kerjakan, satu per satu dan menjaga agar tidak terdistraksi yang salah satunya adalah sosial media.

Tentunya sih, pengalaman saya ini gak bisa lah disamaratakan ke semua orang, karena setelah beberapa berbagi cerita ke teman dekat, ada juga yang merasa nyaman saja menggunakan social media, malah saya punya teman yang dari sosial media tersebut bisa membantu dalam pengembangan bisnisnya. Untuk saya pribadi saat ini dari pada manfaatnya, saya lebih banyak menemukan ketidaknyamanan, jadi ya balik lagi ke tujuan masing-masing dari pengguna sosial media tersebut.

Perasaan tak menyenangkan selalu bertahan yang paling lama. Bekasnya mungkin jauh lebih pekat, dan dengan alasan itu menjadikan sembunyi sebagai salah satu benteng pertahanan diri yang cukup mujarab.

Saat kepala sudah rajin berasumsi, sepertinya lebih baik membatasi ruang agar lukanya tak kemana-mana. Batasan tentu boleh kan diberikan untuk orang-orang yang berpotensi hadirkan rasa tak nyaman.

Manusia tentu patut untuk mencoba, dan hal yang wajar jika ragu selalu menyerang di awal mula. Melepas rasa khawatir memang tak gampang sih, tapi mau sampai kapan berlindung dari sang ego? 

Cerita sudah bukan yang baru, terlalu sering adegan ini diputar berulang. Penonton sudah merasa bosan, kapan cerita ini selesai? Refleksi cermin menjadi lawan yang tangguh, menyamai batu. Dasar si keras kepala.

Hari-hari mulai tak terhitung, aku tak bisa mengingat tanggal berapa sekarang, yang aku tau hanya berapa hari lagi menuju tanggal merah. Pertengahan tahun sudah terlewati di bulan lalu, sekarang pun sudah hampir masuk akhir bulan Juli. Semuanya bergerak pada jalannya masing-masing, entah melambat atau malah sebaliknya, aku telah kehilangan ritmeku kembali.

Kecemasan masih menyajikan beberapa pertanyaan tersulit, aku semakin sering mengkambinghitamkan pertimbangan dibalik keraguan yang terus membebankan langkah. Mungkin memang aku terlalu banyak menggunakan alasan hanya untuk memberikan jawaban ya atau tidak, meskipun pada akhirnya aku masih tidak tau apa yang ku mau.

Iramaku terhenti, mungkin memang sifat dasarku yang terlalu banyak menyimpulkan sendiri tanpa mau bertanya kepada lawan bicaranya. Asumsi memang belum tentu salah, tapi dia pun tidak 100% benar, tak mau menyebut diri sendiri dengan sebutan "pecundang" tetapi belum ada kata lain yang bisa  menggambarkan lebih baik. Cih, nyaliku cuma separuh!

Doa terpanjang tetap ditujukan kepada diri sendiri. Aku ingin  jendela cakrawalaku tetap meluas meski hanya satu langkah kecil yang mungkin masih samar. Ketika nanti di hari baik lainnya, pada saat aku tersadar bahwa langkahku telah lebih dari separuh, mungkin akan ada ucapan terima kasih untuk hari ini. Apapun yang sedang kita jalani sekarang, aku yakin kita semua sedang melatih diri  untuk tetap tegap di pijakan masing-masing.

Beberapa orang tengah berkumpul di depan rumah, dari mulai Nenek, Bude, Om dan sampai para tetangga, mereka sedang bergumam, berlomba siapa  yang paling mengenal sosok yang ada di dalam keranda itu, menyayangkan kepergian dari seorang ayah untuk anaknya yang saat itu masih berumur enam tahun.

Masing-masing orang dewasa lainnya, tengah sibuk menyeka air matanya sendiri. Ibu sedang sibuk dengan rasa kecewanya terhadap takdir, kakak juga waktu itu masih tumbang tidak kunjung bisa berdiri menopang beban hidup yang tentunya akan semakin berat. Hari itu, semuanya seolah runtuh.

Aku masih di kamar ini, masih mengamati dari jendela dan mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku waktu itu tak berharap banyak, aku hanya ingin semua orang ini pulang segera. Rasa kantuk yang masih tersisa sedari subuh tadi karna semalam aku menginap di tempat saudara, lalu pagi sekali aku dibangunkan oleh saudaraku. Ia menyampaikan berita kematian dari Bapak ku sendiri.

Aku dipanggil untuk menemani Ibu, banyak mata yang menatapku dengan tatapan yang sampai sekarang tak pernah mau lagi aku mengalaminya. Belum genap tiga hari dari hari ulang tahunnya, sekarang ia sudah menjadi anak yatim, kata mereka begitu. 

Tuhan baik sekali, di hari itu aku tidak dibiarkan menangis banyak. Aku hanya mulai menangis ketika tanah itu benar-benar menutupi kain kafan yang sedang Bapak pakai. Ku panggil namanya berkali-kali, tetapi tetap saja, harapanku terkubur jauh ke dalam bumi. 

Aku, sebagai anak dengan umur enam tahun kala itu tak gentar sama sekali. Pikirku, besok-besok atau mungkin nanti di hari lebaran Bapak akan pulang. Tepat, setelah aku dibawa ke rumah, aku sadar ternyata semenakutkan itu rasanya sepi. Tiap magrib, aku masih berharap pintu itu akan terketuk untuk kepulangannya, tetapi kosong tidak ada yang kembali. 

Ada beberapa hal yang hanya bisa dibagi dengan diri sendiri, suara lantang ku saat mengeluh adalah simbol bahwa kepala ku sedang tidak damai. Meski pun ada satu dan banyak hari, dimana barat hati semakin terlihat jelas, tapi kecewa dan segala temannya itu tentu selamanya akan selalu tumbuh.

Aku merasa menjadi orang yang paling aman sedunia ketika lebih percaya kepada diri sendiri dibandingkan kepada siapa pun. Meski pun kadang masih ada rasa yang belum "cukup", tetapi percaya saja bahwa apa yang digariskan untuk ku akan jadi bahan pelengkap dari ketidaksempurnaan hidup.

Menyangkal sedih adalah suatu kesia-siaan, toh memang apa salah sedih? sisi kosong yang mungkin nanti cepat atau lambat akan kambuh kembali, tetapi aku yakin sih selama kaki masih bisa untuk menopang rasa lelah, menurut ku nanti aku akan tetap baik-baik saja.

Satu hal yang paling pasti yaitu susah senang tentu hanya sementara. Kala senang itu tidak selamanya, pun kala sedih juga sama. Rupa masam ku jadi pertanda kalau aku resmi jadi manusia.


Aku ingin menjalani ini dengan sungguh-sungguh, menerima apa yang sudah digariskan untuk ku dengan mencintai apa yang sedang aku kerjakan. Mungkin dari sekian banyak tanya jawab dengan semesta, mengenali dan memahami diri sendiri adalah fase terpanjang yang belum sepenuhnya aku pecahkan, tetapi hidup tanpa ketidakpastian dan kecewa itu seperti kita makan nasi tanpa lauk, kurang lengkap rasanya. 

Beberapa manusia memang dituntut  untuk lebih cepat mendewasa. Aku dulu yang terlalu pengecut, takut sekali mengecewakan diri sendiri, selalu bersembunyi dibalik rasa nyaman. Sungguh pelajaran yang mahal, dari semua proses yang sudah dilalui membuat cara pandangku bertumbuh dan membuatku tak gentar dengan keraguan dan kebimbangan. Aku tidak ingin segera beranjak dari titik ini, pun tidak mau juga di sini selamanya, meskipun masih banyak hal yang terapung di kepala tetapi aku belajar untuk menikmati fase ini.

Dari cerita yang sudah-sudah, rasa khawatir yang menggebu-gebu di awal hanyalah ilusi yang menjadi penghalang untuk kita tumbuh. Aku tidak sabar untuk menulis bagian lain dari kisahku sendiri, menyambut hal-hal baik datang dan bersiap untuk menjadi saksi atas proses penyembuhan dari bekas jatuhku sendiri. Perasaan ini tidak akan mati, melainkan tumbuh menjalar mengikuti arah cahaya dan air yang jatuh pada setiap harinya, terus tumbuh dan tumbuh hingga nantinya harus kembali ke dasar bumi, tanah.

Newer Posts Older Posts Home

Kamu adalah pembaca ke -

Beberapa tulisan lain

  • ►  2022 (3)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
  • ▼  2021 (8)
    • ▼  Dec (2)
      • Peran dalam Panggung Pertunjukan - 2
      • Akhir 2021
    • ►  Aug (2)
      • Quitting Social Media
      • Keras kepala akut
    • ►  Jul (1)
      • Separuh
    • ►  Mar (2)
      • Hari minggu di rumah duka
      • Dialog Sendiri - 4
    • ►  Jan (1)
      • Dialog sendiri - 3
  • ►  2020 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (3)
  • ►  2019 (6)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Mar (1)
    • ►  Feb (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Feb (1)
  • ►  2016 (9)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Jan (4)

Berdasarkan Kategori

  • Another 4
  • HeadAndHeart 16
  • Journaling Challenge 7
  • Opinion 2
  • Poem 3
  • Random 2
  • Rantau 5
  • Story Of Me 3

POPULAR POSTS

  • DOA SANG PENJUAL SOAL LATIHAN-Story of me (Part 1)
  • The Book of 2019
  • Sabit ke Purnama
Powered by Blogger.

Debymustikas

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates