questions

Aku membencimu karna seberapa besar rinduku menumpuk kau tidak pernah datang untuk mengambilnya. Aku membencimu karna membuatku terlihat bodoh dengan semua pertanyaan yang aku ajukan setiap harinya  "apakah artinya aku untuk mu ayah?". Malam tidak jadi dingin, masih lebih dingin batu nisan yang ku pegang terakhir bulan fitri kemarin. Ayah baik2 saja? Ayah merinduku? Kemarin aku membenci mu, seminggu lalu aku juga membencimu, dan sekarang aku lebih benci karna terus merindukanmu. Mata sembab ku tidak pernah cukup untuk menghentikan rinduku padamu, air mataku belum cukup untuk membawamu disini, sekali saja datang menghibur mimpi ku sepertinya kau enggan. Begitu tidak penting nya kah aku? 

 Aku iri pada ibu karna ia lebih dulu bisa mengambil hatimu dari pada aku. Aku iri pada kedua kakak ku karna ia lebih lama bisa merasakan kasih sayang mu, kata Ibu dulu kau menyukai musik seperti diriku saat ini, benarkah itu? Kata kakak kau suka marah kepada nya tapi tidak terhadapku, mengapa begitu?.  Hanya aku disini yg tidak banyak mengenalmu, hanya aku yang hingga saat ini masih meragukan kasih sayang mu, hanya aku yg sampai detik ini yang belum menerima penjelasan dari mu.

Semua bayang mu mengusik ketenanganku, perbedaan antara rindu dan benci yang tidak bisa aku lihat, semakin aku membenci mu semakin aku rindu dan semakin aku merindu mu semakin aku benci itu.  Takdir tidak memberiku waktu yang cukup untuk mengenal bagaimana dirimu, entah aku yang bodoh karna tidak bisa mengingat kenangan 13 tahun lalu atau memang garis Tuhan sudah ditentukan begini aku tidak tau Tapi ada satu hal yang ku tau bahwa Kata orang-orang ayah dan aku memiliki garis muka yang mirip, itu satu kehormatan bagiku.

Aku marah tapi sepertinya kau lebih marah hingga tidak mau menemuiku dalam mimpiku. Aku tidak berharap kau menemuiku tiap hari karna aku tau semakin aku melihatmu semakin terluka sakitku, aku pun tidak berharap kau datang tiap minggu karna kemungkinan besar aku akan meminta lebih dari sekedar pertemuan, aku bahkan tidak meminta untuk datang tiap bulan karna aku tau aku akan selalu menantimu selama 30 hari itu, cukup datang lah setaun sekali. Hanya itu. Hanya sekali. Jadilah kado terindah yang tiap taun aku impikan, untuk bertemu tak apa bila selama 12 bulan aku harus menumpuk kerinduanku, selama 365 hari masih bisa ku kendalikan rasa inginku untuk mengenalmu lebih jauh. Maaf aku terlalu memaksa takdir, maaf aku tidak sebaik ibu dan kakak yg bisa merindumu tanpa harus membenci mu. 

Maaf aku masih merindukan mu hingga detik ini. Datang lah untuk peri kecil mu ini, jangan biarkan aku berprasangka buruk terhadapmu. sekali lagi maafkan putrimu yang masih egois dan belum bisa memahami takdir ini ayah, aku merindumu malam ini.


Coffe selalu menyeretku ke dalam malam yg lebih dingin. Lambat tapi pasti ia mulai menguasai angin tepat pukul 12:11 ini. Aku tau ia tidak bermaksud, ia hanya melintas untuk memberikan bayangan tak pasti. Membuatku suntuk dan bertanya mengenai maksud dan tujuan kehadirannya malam ini, walaupun dunia pun tau bahwa ketika ia datang untuk yang kesekian kalinya aku suka. Coffe tidak pernah menawarkan asam, apa lagi pedas, namun ia tidak sepenuhnya pahit.

Sesungguhnya barang kali pada suatu masa bahwa kopi merupakan pasti, ia manis jika diberi gula dan tentu rasa aslinya adalah pahit. Namun aku bodoh dengan angan ku sendiri, aku tertipu membayangkan bagaimana rasanya. Masih dengan cangkir yang sama namun jika dituang untuk kali kedua rasanya sudah berbeda, anehnya jika besok kamu tidak meminumnya kau akan merana. Pembodahan akan coffe yang sudah pasti. Ia terus menerus mengusik hidup mu, tidak untuk memberi harapan palsu namun harapan itu kamu yg ciptakan sendiri. Kafein dalam coffe tiap detik menyita perhatianmu.

Ketergantungan antara menselaraskan rutinitas dan asupan kafein mu semuanya hanyalah alasan belaka sesungguhnya kamu bisa namun kamu tidak mencoba. Dan sekarang dengan bodohnya kamu masih menuangkan coffe yang sama tanpa ragu untuk berfikir ulang, hanya pahit dan manis lalu apa yg kau duga?  Semua prasangka sudah nyata hanya km yang menyangkal kenyataanya. Untuk apa sesuatu yg sudah pasti masih dipertanyakan? Kamu yg bodoh namun coffe  tidak.
Sebuah panggung megah berhiaskan kegeloraan duniawi, masing-masing orang sibuk mepersiapkan peranya sendiri mencoba berperan sebagus mungkin berharap mencuri hati para penonton, malam ini pangung pertunjukan terasa sesak, tiap orang beradu kebolehan sekarang. Sedangkan dilain sisi aku memperhatikan salah satu pertunjukan sederhana, kali ini ia beradu peran sendirian, ia bercerita bahwa dia dulu seorang bocah kecil yang  memenangkan segalanya, bersorak gembira saat yang lain tertawa, bermain bersama menunjukan sisi keriangannya, tanpa beban, tanpa tau bahwa ada terselip takdir pahit kecil disela hidupnya. Peran yang bagus bukan? Siapa sangka bahwa terkadang takdir pun menunjukan sisi jahatnya. 

Sekarang bocah kecil itu telah sendiri, ia musnah dimakan sang takdir, sesekali ia hanya bisa membayangkan kenangan yang muncul ketika ia masih menjadi peri kecil sang pelipur lara bagi orangtua nya. Bohong. Semua peran yang tadi ia susun dengan rapi itu hanyalah imajinasi. Terkadang bocah kecil itu berteriak menanyakan kejelasan apa yang sedang terjadi saat ini, namun semakin ia berteriak kencang, dia semakin tidak mendengar kejelasan antara pertanyaan dan takdir yang sekarang beruntutan mendatangi bocah kecil itu meninggalkan traumatis mengasihani diri sendiri.

Kali ini kuda yang ia tunggangi roboh, kepercayaan yang selama ini dia banggakan ternyata semua hanya ilusi. Dinding batas antara rindu dan benci semua itu hanyalah halusinasi, nyatanya seorang petualang di alam lepas tidak bisa membedakan antara oksigen dan karbondioksida padahal keduanya sungguh berbeda. Makin hari dia semakin menyadari bahwa hidup tidak semudah seperti yang ada dalam mimpi nya dulu, logika logika tak berujung yang tidak dapat di mengerti, dan bahasa kesengsaraan yang kini makin bisa di pahami, serta dunia yang makin hari semakin menenggelam kan nya kedalam keterpurukan duniawi sekarang sudah dapat diatasi.

Jika ditelusuri bahwa bocah kecil itu yang bodoh karna hanya menyangkal adanya takdir. Lalu apa yang bisa dilakukan nya lagi? Yang bisa dilakukan hanyalah menerima. Hanya itu. Dunia memang panggung sandiwara dimana manusia harus memerankan peran tertentu, entah menjadi antagonis ataupun protagonis tugas sang pemeran hanya perlu memerankannya dengan baik.


Bukankah waktu sangat jahat padamu? Ia selalu menempatkan mu di ujung yang salah, kala semua itu ku kira tepat namun waktu tidak bersedia memanggil mu disini. Aku bergelut dengan bayangku sendiri, adakah kamu di balik titik ilusi ku? entah kenapa aku sedikit menyayangkan hal ini bahwa sesungguhnya ada sedikit harapan di pelupuk mata ku. Akankah kamu? Tapi sekali lagi waktu tidak pernah menempatkatkan posisimu dengan baik dihadapanku.

Aku tidak paham mengenai bagaimana mengartikan hatiku ini, terkadang takdir membawa kesakitan ke arah yang lebih jauh. Mencoba mayakinkan bahwa semua ini sudah selesai, namun tidak, kamu belum memenangkan semuanya. Kenangan masih ditempat yang sama layaknya matahari yang akan kembali lagi tenggelam diufuk barat sana. Semua masih tertata rapi, maaf tapi km belum bisa menyelipkan sepucuk goresan kenangan disana. Sekali lagi bahwa aku tidak akan memaksa waktu untuk menempatkan mu karna sekeras apapun aku mencoba aku tidak bisa membodohi diriku sendiri, biarkan ia berkehendak lain sampai aku menemukan dan kau pula sama-sama menemukan waktumu. 

Sekarang detik ini aku berharap kamu sedang membaca ulasan-ulasan cerita ini, aku berharap kamu mengerti bahwa menyerahlah untuk saat ini, jgn tunggu aku lagi. jikala nanti dilain waktu kamu masih berharap atas aku maka kembali lah lagi minta lah waktu untuk menjelaskan padaku bagaimana seharusnya tempat posisimu berada.

Percaya atau tidak, aku mengagumi mu layaknya aku mengagumi roti dan coffe, selalu aku sukai untuk menemani perbincangan malam ku dengan langit. menyukai mu seperti sunset sore yang selalu membuatku rindu akan kehadirannya serta memuji mu seperti aku memuji bunga matahari dan mawar yang merupakan dambaan setiap wanita. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyatakan kisahnya, entah lewat tulisan, entah lewat lagu, entah lewat lukisan ataupun lewat teman. Aku tidak pandai berbicara, aku pun tidak pandai merangkai kata tapi sejak kenal kamu aku lebih suka mengeluh, aku asik menceritakan cerita keluh kesah ku kepada mu.

Sejak pertama perbincangan aneh kita dimulai, kamu sudah membagi dua pikiranku, aku merasa memiliki dunia tersendiri bersama mu. Di dunia maya kita layaknya dua orang gila nan aneh yang saling menceritakan keluh kesahnya satu sama lain, tapi di dunia nyata kita hanyalah sepasang padangan mata yang lewat sepintas saja, tidak saling menyapa, tidak saling bertutur kata. katamu ini hanyalah profesionalitas saja ataukah aku yang memang bukan prioritas? Entah.

Dimata mereka aku hanyalah biasa, sama dengan mereka yang mengenalmu tapi saat kita di dunia maya aku mengenalmu lebih dari mereka memahami mu. Aku merasa terspesialkan. namun aneh nya aku terlalu nyaman dengan situasi ini hingga aku lupa bahwa sebuah pertemuan memerlukan status, sebuah perjumpaan memerlukan  kepastian. lalu kita adalah apa? Apakah kita adalah iya? Atau jangan-jangan aku dan kamu adalah tidak? Mungkin kah kamu dan aku adalah bukan?

Jika ingin bercerita maka critakanlah, jika ingin mengeluh maka berkeluh kesah lah padaku, namun perjelas lah jarak mu dan jarak ku hanyalah sebatas laut dan sunset saja, saling bertemu namun memiliki jarak dan batas yang jelas bahwa perbedan mereka sudah dibatasi takdir. Aku tidak dapat mengertikan pertemuan, tidak dapat pula ku pahami mengapa takdir mempertemukan langit dan sunset tetapi tidak pernah menyatukannya. Jangan buat aku salah paham! Menerka dalam angan, aku tidak suka untuk mengerti itu.
Pesan mu masih sering kamu kirimkan untuk ku, walaupun hanya sekedar menyapa atau pun saling menanyakan kabar dan aku hanya sesekali membalasnya terkadang malah aku hanya iseng membacanya saja, hampir 6 bulan ini kamu tidak pernah terlambat untuk menghubungi ku, sesekali terkadang kamu mengirim gambar ataupun voice note yang sebenarnya membuatku risih dan canggung, dan pada malam hari kamu juga terkadang memintaku untuk menjawab telepon yang sengaja ku hindari sedang mencari-cari alasan-alasan tak logis agar aku tidak bisa menjawab teleponmu. Aku jahat bukan?

Maafkan lah aku yang belum sempat menempatkan mu di bagian lainnya, karna sekarang aku masih terlalu sibuk untuk membereskan diriku sendiri, dan hati ku masih sulit untuk menerima orang lain sebagai penggantinya, aku tidak ingin melukai mu dengan berpura-pura mencintai mu atau apapun itu, karna aku tau rasanya disakiti maka dari itu aku tidak akan menyakiti mu. Lebih baik seperti ini menutup hatiku rapat-rapat untuk siapapun, tanpa terkecuali hingga waktunya tiba dimana aku sudah lelah untuk menunggu dan akhirnya luka ku sembuh dengan obat hati yaitu waktu.

Bagi ku lebih sulit untuk berpura-pura mencintai seseorang dari pada berpura-pura untuk tidak mencintai seseorang, ah tidak! Semuanya terasa sulit ku lakukan. Kamu adalah sosok yang paling sabar dari semua orang yang ku kenal, bahkan mungkin kamu jauh lebih sabar dibandingkan dengan ku. Kamu memiliki segalanya, kamu mungkin adalah kriteria lelaki yang aku idamkan selama ini, kamu jauh lebih baik dibandingkan dengan lelaki itu, lelaki yang semalam tanpa sengaja masuk menyelinap ke dalam mimpi ku. Pernah aku mencoba untuk membuka hati untuk mu, bukan karena ku kasihan akan tetapi karena aku menghargai perasaan mu terhadapku, namun apa yang terjadi? Nihil! Aku tidak bisa memilih mu untuk bersanding dengan ku, bukan apa-apa tapi menurut ku kamu tidak layak untuk ku permainkan perasaannya demi memenuhi rasa penasaranku apakah ini salah satu cara untuk melupakan dia atau tidak, dia seseorang yang sama sekali tidak ada habisnya untuk ku cintai.

Aku salah sangka pada diriku sendiri, aku bodoh, aku terlalu larut mencintai sehingga sampai aku lupa caranya untuk menghargai seseorang yang mencintai ku. Egois, sungguh egois, aku adalah manusia teregois di dunia ini, mementingkan perasaan diri sendiri, lebih memilih mencintai seseorang yang jelas-jelas sudah menyakiti, lebih memilih menunggu seseorang yang tidak ingin ditunggu.

Aku hanya tidak ingin lebih banyak menyakiti diriku sendiri, semakin aku paksakan untuk membuka hati namun ia semakin tak terganti, semakin aku paksakan untuk melupakan namun ia semakin teragungkan. Kalo hati bisa memilih, aku akan memilih untuk mencintai mu. Kalo hati bisa menentukan aku akan menentukan hidupku hanya untuk mu. Kalo hati bisa menjawab, aku akan bertanya. Mengapa aku harus mencintainya dan bukan mencintai mu?
Mata ini terus tertuju pada satu sosok yang membuatku ingin terus bermimpi tanpa bangun sedetik pun, bibir ini masih ingin tersenyum tanpa ingin ku akhiri semuanya, kaki ini masih ingin melangkah ke arah yang sama atas semua kisah yang pernah dibangun bersama, namun sekali lagi aku kecewa, aku kecewa pada mimpi, mengapa hanya mimpi? 

Kenyataan bahwa kamu sekarang berdiri memandang orang lain itu membuat ku menyesal untuk pernah berjuang. Seharusnya aku bahagia melihat kamu tersenyum tapi mengapa ini berbeda, melihat mu yang sekarang berdiri disamping orang lain, menyuguhkan seyuman mu untuknya membuatku sakit. Bagaimana bisa orang yang diam-diam aku maafkan kesalahanya dan aku tunggu kehadirannya kembali di hidup ku tetapi ia malah menunggu orang lain, mencintai orang lain. Seindah itu kah kisah cinta kalian? 

Aku iri dengan dia, dia bisa memeluk mu, memiliki mu bahkan mungkin bisa memenangkan hati mu, namun satu hal yang paling membuat ku iri, apakah kamu pernah menangis untuknya seperti menangis untuk ku dulu? Apakah ternyata dia juga sekarang dia yang menjadi alasan saat kamu menjatuhkan air mata mu saat ini? Mungkin iya, dia menang atas segalanya.

Hati ini masih sama, aku masih menunggu mendung, berharap agar setelah hujan ada pelangi di sana. Aku masih menungu langit senja berharap setelah gelap datang bintang akan menghias langit di sana, namun kali ini aku tidak tau apa yang akan aku tunggu karna mendung yang ku tunggu berubah menjadi badai, langit senja yang ku tunggu berubah menjadi gerhana yang membuatnya gelap tanpa cahaya sediki tpun. Apapun ku lakukan untuk menghapus duka, tapi hasil nya adalah ternyata lebih menyakitkan ketika kita berpura-pura mencintai seseorang dari pada ketika kita berpura-pura untuk tidak lagi mencintai seseorang.

Rasa ini membuat ku terbelenggu akan penantian yang tak berarti, sampai kapan kah ini akan terus begini. Aku pun tidak pandai membaca hati ku sendiri bahkan sekarang aku tidak tau apakah rasa ini masih sama seperti dahulu atau tidak, tapi ketika melihat mu mencintainya lebih dari kamu mencintai ku dulu aku merasa terduakan, aku iri. Aku tidak ingin menanti mendung, aku pun tidak ingin menunggu langit senja lagi, yang ingin ku lakukan adalah terus berlari, terus berjalan, bersama mu ataupun tidak bersama mu aku akan terus pergi menjauh dari masa lalu sampai aku sudah jauh di suatu titik hingga aku tak bisa memandang mu kembali. Aku akan berlari menjauhi mu sejauh mungkin hingga jarak diantara kita tidak dapat lagi kamu lihat.

Aku akan membiarkan mu menangis untuk orang lain dan tidak akan aku iri dengannya lagi. Dan kamu, berbahagia lah kamu, genggam tangannya jangan sampai lepas seperti kamu melepaskan ku dulu, tersenyumlah untuknya buat aku muak agar aku dapat membenci mu lalu berpaling pindah ke lain hati, lupakan kita seperti yang kamu lakukan sekarang, jangan panggil namaku lagi dimimpi mu, berlarilah kamu tidak boleh menangis untuk ku lagi ada seseorang yang ingin kamu tangisi, seperti hujan gerimis di musim hujan yang tidak terlihat biarkan lah kisah kita berlalu seperti itu. Tidak dipedulikan. Tidak bermakna.


Semenjak hari itu, hari dimana aku melihat kamu tersenyum bahagia ketika kita baru memutuskan untuk berpisah, apakah kamu sebahagia itu? Tidak bisakah kamu berpura-pura bersedih ketika bertemu dengan ku? sedangkan aku yang datang dengan mata sembab sisa menangis semalam dan sengaja aku tutupi agar kamu tidak pernah melihatnya. Aku berpura-pura untuk baik-baik saja di hadapan teman-teman ku seolah tidak pernah terjadi apa-apa, bukan karena aku tidak bersedih akan tetapi aku hanya berfikir kamu akan kembali disisiku lagi sehingga aku memutuskan untuk merahasiakan perpisahan kita dan membiarkannya menjadi suatu peristiwa yang berlalu tanpa ada  satu orang pun yang tau kecuali kamu dan aku. Tapi semua itu tidak terjadi, orang yang dulu pernah menangis pilu untukku tidak pernah kembali. 

Hari itu hari terakhir aku melihat mu, aku tidak pernah bertemu dengan mu lagi, aku pun sudah tidak bisa melihat mu dari kejauhan karna kita terpisah oleh jarak yang menurutku sesungguhnya tidak masalah bagiku jika kita menjalani hubungan jarak jauh sekalipun aku sanggup dan bersedia. Entah mengapa semuanya menjadi serba mudah, kamu menghilang, kamu memutuskan untuk berpisah dan kamu tidak pernah kembali lagi, apakah sesederhana itu akhir dari cerita kita? Mengapa disini aku tidak berperan sedikitpun dari perpisahan ini? Aku hanyalah pihak yang hanya menerima kenyataan dan mengikuti alur cerita yang kamu buat sendiri lalu kamu akhiri sendiri cerita itu tanpa melibatkan aku di dalam nya. 

Banyak orang mengatakan jatuh cinta itu sederhana tapi mengapa dicerita kita malah perpisahan ini yang sangat sederhana? Sekarang aku berdiri sendiri dibawah langit kelabu, tanpa kamu, tanpa kita, tanpa cerita kita dan kamu sekarang sudah berdiri bersama orang lain bersama dia, tanpa aku, mengukir kisah cinta bersamanya. Sekeras apapun aku mencoba, aku belum bisa memahami arti dari sebuah air mata yang dulu pernah berkali-kali kamu jatuhkan saat menangis untuk ku, bagaimana bisa air mata itu berbohong, jika air mata saja yang katanya tanda kejujuran itu saja bisa berbohong maka bagaimana bisa aku mempercayai mulut yang katanya tempat nya manusia berbohong?

Saat ini langit ku masih mendung awan kelabu masih menutupi matahari ku, hujan sudah menghiasi lagi  langit ku tetapi satu hal yang aku yakin bukan kah setelah mendung pasti ada pelangi, bukankah setelah mendung pasti ada langit yang cerah? Aku percaya semua itu, dan kamu langit cerah yang kamu rasakan sekarang bukankah sewaktu-waktu bisa terjadi hujan, bukan kah tidak selamanya langit itu akan cerah, bukankah bisa saja akan terjadi badai setelah ini semua? Berfikirlah kamu masalalu ku tidak selamanya kamu yang mengukir cinta, akan ada saatnya kamu hanya bisa mengikuti alur cinta tanpa terlibat didalamnya.
First chapter about coffee, aku menemukan sisi lain dari diriku. Sedikit aneh, aku baru menyadarinya beberapa waktu lalu dimana aku melihat aku yang kosong. Semua orang tau kopi memang pait tapi banyak orang yang menggemarinya, mengapa? bukankah mengkudu juga pahit tapi mengapa banyak yang tak menggemarinya? Aku pernah mendengar mengkudu itu dapat digunakan sebagai obat, lalu mengapa orang banyak yang tidak suka padahal dia (mengkudu) itu baik untuk kesehatan sedangkan kopi, kopi mengandung banyak kafein yang katanya tidak baik jika dikonsumsi terus menerus, lalu mengapa banyak orang yang menyukainya padahal dia (kopi) tidak baik untuk kesehatan. Bagaimana bisa orang menyukai sesuatu yang padahal tidak baik untuk dirinya sendiri?

Hari ini aku menyadari tentang beberapa hal mengenai diriku, aku termasuk orang yang mencintai hal yang baru, tapi aku juga mecintai segala sesuatu yang membuatku nyaman dan aku enggan untuk melepaskannya, itulah masalahnya ketika aku sudah merasa nyaman bahkan hal-hal baru yang aku cintai pun tidak bisa memalingkan dari sesuatu yang membuatku nyaman. Bukan kah wajar mencintai sesuatu yang membuat kita nyaman tapi bagaimana jika aku mencintai sesuatu yang bahkan tidak baik untuk ku, seperti kopi?

Ini lah kekurangan ku terkadang aku terlalu malas untuk bangun dari rasa nyaman itu (walaupun kenyamanan itu sudah berlalu), aku memang mudah mengerti perasaan orang lain tapi aku bukan tipe orang yang mau memahami dan menerima perasaan orang lain. Semakin bertambahnya umur aku semakin menganal banyak orang, mengetahui satu persatu bagaimana karakter orang yang aku temui. 

Aku terlalu lalai dengan karismatik sang coffee, sampai aku lupa saat aku meminumnya, menikmati harumnya, mengagumi pesonanya, bahkan mencintai setiap detik rasa kopi yang ku rasakan, aku lupa bahwa akan ada saat nya kopi itu habis, harumnya tidak bisa lagi ku cium, pesona sang coffee pun tidak akan bisa ku lihat dan cinta ku akan setiap detik merasakan kopi itu akan musnah bahkan mungkin jika aku menuangkan kopi itu lagi rasanya tak akan sama.

Aku mulai merasakan ada sisi lain dari diriku aku tidak bisa merasakan minuman apapun, aku meminumnya namun aku tidak mencintainya, aku menghargai hal apapun yang ada di dalam hidupku itu lah sebabnya aku masih tetap menerima (meminum) minuman lain; teh, susu, air mineral, tapi belum ada yang mengalahkan rasa nyamanku akan sang coffee, akan tetapi ada yang lebih mengusik ku yaitu kerinduan akan karismatik sang coffe yang perlahan-lahan menghancurkan benteng pertahanan ku untuk tidak meminumnya lagi, perlahan-lahan membuat ku enggan untuk merasakan minuman lain, membuatku larut akan kenangan saat pertama kali meminumnya,  aku merindukan mu, coffee!
Newer Posts Home

Kamu adalah pembaca ke -

Beberapa tulisan lain

  • ►  2022 (3)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Jan (1)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (3)
  • ►  2019 (6)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Mar (1)
    • ►  Feb (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Feb (1)
  • ▼  2016 (9)
    • ▼  Dec (2)
      • Cerita punya Bapak
      • Another chapter about coffee
    • ►  Sep (2)
      • Peran dalam Panggung Pertunjukan
      • Posisi dan Waktu
    • ►  May (1)
      • Menerka dalam angan
    • ►  Jan (4)
      • Pilihan?
      • Gerimis di musim hujan
      • Langit
      • Little things of coffee

Berdasarkan Kategori

  • Another 4
  • HeadAndHeart 16
  • Journaling Challenge 7
  • Opinion 2
  • Poem 3
  • Random 2
  • Rantau 5
  • Story Of Me 3

POPULAR POSTS

  • DOA SANG PENJUAL SOAL LATIHAN-Story of me (Part 1)
  • The Book of 2019
  • Sabit ke Purnama
Powered by Blogger.

Debymustikas

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates