Aku iri pada ibu karna ia lebih
dulu bisa mengambil hatimu dari pada aku. Aku iri pada kedua kakak ku karna ia
lebih lama bisa merasakan kasih sayang mu, kata Ibu dulu kau menyukai musik
seperti diriku saat ini, benarkah itu? Kata kakak kau suka marah kepada nya
tapi tidak terhadapku, mengapa begitu?. Hanya aku disini yg tidak banyak
mengenalmu, hanya aku yang hingga saat ini masih meragukan kasih sayang mu,
hanya aku yg sampai detik ini yang belum menerima penjelasan dari mu.
Semua bayang mu mengusik ketenanganku, perbedaan antara
rindu dan benci yang tidak bisa aku lihat, semakin aku membenci mu semakin aku
rindu dan semakin aku merindu mu semakin aku benci itu. Takdir tidak
memberiku waktu yang cukup untuk mengenal bagaimana dirimu, entah aku yang
bodoh karna tidak bisa mengingat kenangan 13 tahun lalu atau memang garis Tuhan
sudah ditentukan begini aku tidak tau Tapi ada satu hal yang ku tau bahwa Kata
orang-orang ayah dan aku memiliki garis muka yang mirip, itu satu kehormatan
bagiku.
Aku marah tapi sepertinya kau lebih marah hingga tidak mau
menemuiku dalam mimpiku. Aku tidak berharap kau menemuiku tiap hari karna aku
tau semakin aku melihatmu semakin terluka sakitku, aku pun tidak berharap kau
datang tiap minggu karna kemungkinan besar aku akan meminta lebih dari sekedar
pertemuan, aku bahkan tidak meminta untuk datang tiap bulan karna aku tau aku
akan selalu menantimu selama 30 hari itu, cukup datang lah setaun sekali. Hanya
itu. Hanya sekali. Jadilah kado terindah yang tiap taun aku impikan, untuk
bertemu tak apa bila selama 12 bulan aku harus menumpuk kerinduanku, selama 365
hari masih bisa ku kendalikan rasa inginku untuk mengenalmu lebih jauh. Maaf
aku terlalu memaksa takdir, maaf aku tidak sebaik ibu dan kakak yg bisa
merindumu tanpa harus membenci mu.
Maaf aku masih merindukan mu hingga detik ini. Datang lah
untuk peri kecil mu ini, jangan biarkan aku berprasangka buruk terhadapmu.
sekali lagi maafkan putrimu yang masih egois dan belum bisa memahami takdir ini
ayah, aku merindumu malam ini.