First chapter about coffee, aku
menemukan sisi lain dari diriku. Sedikit aneh, aku baru menyadarinya beberapa
waktu lalu dimana aku melihat aku yang kosong. Semua orang tau kopi memang pait
tapi banyak orang yang menggemarinya, mengapa? bukankah mengkudu juga pahit
tapi mengapa banyak yang tak menggemarinya? Aku pernah mendengar mengkudu itu
dapat digunakan sebagai obat, lalu mengapa orang banyak yang tidak suka padahal
dia (mengkudu) itu baik untuk kesehatan sedangkan kopi, kopi mengandung banyak
kafein yang katanya tidak baik jika dikonsumsi terus menerus, lalu mengapa banyak
orang yang menyukainya padahal dia (kopi) tidak baik untuk kesehatan. Bagaimana
bisa orang menyukai sesuatu yang padahal tidak baik untuk dirinya sendiri?
Hari ini aku menyadari tentang
beberapa hal mengenai diriku, aku termasuk orang yang mencintai hal yang baru,
tapi aku juga mecintai segala sesuatu yang membuatku nyaman dan aku enggan
untuk melepaskannya, itulah masalahnya ketika aku sudah merasa nyaman bahkan
hal-hal baru yang aku cintai pun tidak bisa memalingkan dari sesuatu yang membuatku
nyaman. Bukan kah wajar mencintai sesuatu yang membuat kita nyaman tapi
bagaimana jika aku mencintai sesuatu yang bahkan tidak baik untuk ku, seperti kopi?
Ini lah kekurangan ku terkadang aku
terlalu malas untuk bangun dari rasa nyaman itu (walaupun kenyamanan itu sudah
berlalu), aku memang mudah mengerti perasaan orang lain tapi aku bukan tipe
orang yang mau memahami dan menerima perasaan orang lain. Semakin bertambahnya
umur aku semakin menganal banyak orang, mengetahui satu persatu bagaimana
karakter orang yang aku temui.
Aku terlalu lalai dengan karismatik
sang coffee, sampai aku lupa saat aku meminumnya, menikmati harumnya, mengagumi
pesonanya, bahkan mencintai setiap detik rasa kopi yang ku rasakan, aku lupa
bahwa akan ada saat nya kopi itu habis, harumnya tidak bisa lagi ku cium,
pesona sang coffee pun tidak akan bisa ku lihat dan cinta ku akan setiap detik
merasakan kopi itu akan musnah bahkan mungkin jika aku menuangkan kopi itu lagi
rasanya tak akan sama.
Aku mulai merasakan ada sisi lain dari
diriku aku tidak bisa merasakan minuman apapun, aku meminumnya namun aku tidak
mencintainya, aku menghargai hal apapun yang ada di dalam hidupku itu lah sebabnya aku masih tetap menerima (meminum) minuman lain; teh, susu, air mineral,
tapi belum ada yang mengalahkan rasa nyamanku akan sang coffee, akan tetapi ada
yang lebih mengusik ku yaitu kerinduan akan karismatik sang coffe yang
perlahan-lahan menghancurkan benteng pertahanan ku untuk tidak meminumnya lagi,
perlahan-lahan membuat ku enggan untuk merasakan minuman lain, membuatku larut
akan kenangan saat pertama kali meminumnya, aku merindukan mu, coffee!
0 Comments