questions

Beberapa orang tengah berkumpul di depan rumah, dari mulai Nenek, Bude, Om dan sampai para tetangga, mereka sedang bergumam, berlomba siapa  yang paling mengenal sosok yang ada di dalam keranda itu, menyayangkan kepergian dari seorang ayah untuk anaknya yang saat itu masih berumur enam tahun.

Masing-masing orang dewasa lainnya, tengah sibuk menyeka air matanya sendiri. Ibu sedang sibuk dengan rasa kecewanya terhadap takdir, kakak juga waktu itu masih tumbang tidak kunjung bisa berdiri menopang beban hidup yang tentunya akan semakin berat. Hari itu, semuanya seolah runtuh.

Aku masih di kamar ini, masih mengamati dari jendela dan mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku waktu itu tak berharap banyak, aku hanya ingin semua orang ini pulang segera. Rasa kantuk yang masih tersisa sedari subuh tadi karna semalam aku menginap di tempat saudara, lalu pagi sekali aku dibangunkan oleh saudaraku. Ia menyampaikan berita kematian dari Bapak ku sendiri.

Aku dipanggil untuk menemani Ibu, banyak mata yang menatapku dengan tatapan yang sampai sekarang tak pernah mau lagi aku mengalaminya. Belum genap tiga hari dari hari ulang tahunnya, sekarang ia sudah menjadi anak yatim, kata mereka begitu. 

Tuhan baik sekali, di hari itu aku tidak dibiarkan menangis banyak. Aku hanya mulai menangis ketika tanah itu benar-benar menutupi kain kafan yang sedang Bapak pakai. Ku panggil namanya berkali-kali, tetapi tetap saja, harapanku terkubur jauh ke dalam bumi. 

Aku, sebagai anak dengan umur enam tahun kala itu tak gentar sama sekali. Pikirku, besok-besok atau mungkin nanti di hari lebaran Bapak akan pulang. Tepat, setelah aku dibawa ke rumah, aku sadar ternyata semenakutkan itu rasanya sepi. Tiap magrib, aku masih berharap pintu itu akan terketuk untuk kepulangannya, tetapi kosong tidak ada yang kembali. 

Ada beberapa hal yang hanya bisa dibagi dengan diri sendiri, suara lantang ku saat mengeluh adalah simbol bahwa kepala ku sedang tidak damai. Meski pun ada satu dan banyak hari, dimana barat hati semakin terlihat jelas, tapi kecewa dan segala temannya itu tentu selamanya akan selalu tumbuh.

Aku merasa menjadi orang yang paling aman sedunia ketika lebih percaya kepada diri sendiri dibandingkan kepada siapa pun. Meski pun kadang masih ada rasa yang belum "cukup", tetapi percaya saja bahwa apa yang digariskan untuk ku akan jadi bahan pelengkap dari ketidaksempurnaan hidup.

Menyangkal sedih adalah suatu kesia-siaan, toh memang apa salah sedih? sisi kosong yang mungkin nanti cepat atau lambat akan kambuh kembali, tetapi aku yakin sih selama kaki masih bisa untuk menopang rasa lelah, menurut ku nanti aku akan tetap baik-baik saja.

Satu hal yang paling pasti yaitu susah senang tentu hanya sementara. Kala senang itu tidak selamanya, pun kala sedih juga sama. Rupa masam ku jadi pertanda kalau aku resmi jadi manusia.
Newer Posts Older Posts Home

Kamu adalah pembaca ke -

Beberapa tulisan lain

  • ►  2022 (3)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
  • ▼  2021 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Jul (1)
    • ▼  Mar (2)
      • Hari minggu di rumah duka
      • Dialog Sendiri - 4
    • ►  Jan (1)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (3)
  • ►  2019 (6)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Mar (1)
    • ►  Feb (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Feb (1)
  • ►  2016 (9)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Jan (4)

Berdasarkan Kategori

  • Another 4
  • HeadAndHeart 16
  • Journaling Challenge 7
  • Opinion 2
  • Poem 3
  • Random 2
  • Rantau 5
  • Story Of Me 3

POPULAR POSTS

  • DOA SANG PENJUAL SOAL LATIHAN-Story of me (Part 1)
  • The Book of 2019
  • Sabit ke Purnama
Powered by Blogger.

Debymustikas

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates