questions


Kumpulan tulisan di tahun 2019, sepertinya tahun kemarin aku terlalu banyak melewatkan waktu untuk tidak menulis lagi. Sebenarnya, pada beberapa momen terkadang aku menulis di memo ponsel namun ya hanya sebatas itu. Cukup menyesal sih, dikarenakan tidak banyak yang aku post pada blog ini. Hmm baik lah, sepertinya cukup untuk pembukaan The book of 2019. Here we go...

Oh iya aku hanya akan menuliskan beberapa catatan kecil dari salah satu yang ku tulis setiap bulannya, agar buku ini tidak terlalu panjang. Itu saja.


2 Januari 2019

Kita hanya perlu istirahat
Memendam kata agar tidak terus mencerca
Memelihara hati tanpa harus ada benci

Kita hanya perlu diam
Sejenak melupakan beban tanpa alasan
Menyerahkan dunia dengan doa kepada sang Pencipta


7 Februari 2019

Diusia ini definisi cinta menjadi frasa yang sulit diraba
Bukan lagi terpana dengan rupa
Bagiku nyaman saja terkadang bukan jaminan untuk jadi cinta
Apalagi kalau sekedar meramal namanya dalam doa

Parameter dalam penilaian tak lagi sama
Satu dua cela, ragu selalu saja membuat kita tak bisa menerima
Bukan kah manusia tak ada satu pun yang sempurna?
Lalu kenapa susah sekali mencinta tanpa perlu banyak tanya?


10 April 2019

Gadis yang tinggal di hutan

Bahkan aku sudah mengalah pada angin
Hujan tak kunjung berdamai membiarkanku tak kedinginan
Sudah terlanjur basah namun pedih tetap jua tak mau beranjak
Tentunya aku malu dengan ranting dan dedaunan, mereka bahkan lebih tenang

Maksudnya apalagi jika bukan ingin membuat pertahananku gaduh
Gelap bukan takutku, tapi haruskah senyumku padam juga?
Dunia sudah terlalu menekan, namun aku tetap dibiarkan sendirian
Aku lah gadis yang tinggal di hutan


16 May 2019

Kenapa Jogja tidak mempertemukan?

"Everything comes to you in perfect time"

Beberapa bulan lalu kamu berdiri tepat di depan pintu, mengayunkan tangan seakan mengajakku untuk kembali mengejar angan yang tidak pernah pasti.

Aku begitu percaya, tidak ada yang bisa mengalahkan ketika Tuhan sudah berkata ''Tidak'' tetapi setiap kali kamu datang tepat diambang pintu, aku kembali berandai-andai barangkali saja firasatku tempo lalu salah.

Jogja menjadi sebuah pintu kesempatan
Kata mu ''Aku di Jogja, kamu dimana?''
Pesan itu seharusnya aku kirimkan duluan, sebelum kereta yang membawaku pergi berangkat. 

Semenjak hari itu aku percaya, tidak akan ada pintu lain yang akan terbuka. Kamu tidak pernah tepat saat membuka pintu kesempatan, dan tentu saja aku selalu tidak tepat waktu dalam menuliskan sebuah cerita kita. Kita tidak salah, hanya saja ada beberapa hal yang diluar kuasa manusia.


7 July 2019

My thirty days to know u

I'm so glad to meet u
U're kinda the perfect one that  i've ever seen before
U're perfect because being u
U're so perfect because u're loving me

Hey, don't be worried
Let me know your struggle, your dark side and everything else about u
I hate the time when u lose me

Today, let's be more than this. I choose u
No matter how this end, please for now grab my hand and save me
Lets celebrate your birthday in September, i'll wait. 


9 Agustus 2019

Semoga Tuhan mencabut segala rasa bahagiamu
Untuk jiwamu yang sakit ataupun untuk hatimu yang batu
Sesakit-sakitnya kamu, jangan pernah sengaja menaruh luka kepada orang lain

Kamu dan dirimu itu, seharusnya tidak ada lagi doamu yang Ia dengarkan
Seharusnya Tuhan lebih dulu mengutukmu agar tidak merasakan kasih dari siapa pun
Semoga tidak ada manusia lain yang membenci dirinya sendiri karena kamu
Seperti aku sekarang

Yasudah, ini batasku
Selebihnya terserah kamu


22 September 2020

Please, leave me
Even the world is gone
Even my world is lost

Please, leave me
Even u can get hurt
Even i'm the most get hurt

Now, i let u go
Cause, you dont know what kind of heart u give to me
Cause, i dont know how far i can reach u
If u cant find anything and feeling nothing
Please, dont stay.


13 Oktober 2019

Aku memilih menjadi angin
Melenyapkan semua keresahanmu
Menyejukan, saat bumi tak bisa menampung banyak amarahmu

Aku memilih menjadi angin
Aku tak pernah terlihat
Tapi kamu masih bisa merasakannya di ujung jemari itu
Saat kamu membuka tangan dan memejamkan mata, kamu akan tau kalau aku ada

Boleh aku meminta?
Aku ingin menuntut satu hal dan tolong turuti saja 
Mohon jangan gandakan rasa itu untuk orang lain yang bukan aku
Cukup aku saja

Kita tak perlu saling memeluk apa bila kamu sedang senang
Cukup kamu bisa ingat aku ketika tak ada hal lain yang baik di hari mu
Maaf aku seegois ini, tak ingin tampak tapi ingin selalu diingat
Tak apa, katamu aku berhak meminta apapun kecuali raga dan perhatian mu kan?
Maka itu aku minta, tanamkan pada hatimu bahwa tidak akan ada wanita lain yang seperti aku


Back to December 2019

Kamu bisa melaju tanpa aku dan aku pun sudah bisa berhenti untuk memupus harapan untuk terus beriringan. Mungkin berjalan bersama bukan ide yang baik untuk kita, masing-masing dari kita sudah saling memutus rantai yang dari kemarin tak kunjung usai.

Kita hebat ya, kemarin sudah berani memulai meskipun kita belum berhasil mengakhirinya dengan baik. Semoga kelak ini menjadi sebuah pelajaran, aku banyak belajar untuk menerima dan kamu sudah belajar untuk membuka. 

Bukankah kita sangat beruntung karena pernah bersama?
Dari bermilyar-milyar manusia, dan dari sekian banyak orang yang saling bertatap muka, kita sempat membuat satu sama lain bahagia. Kita adalah dua orang yang beruntung.

Maaf aku telah berkali-kali menyuruhmu pergi, dan aku pun minta maaf atas kelacanganku untuk mencoba meyakinkanmu untuk menjaga ku meskipun aku sudah tau bahwa aku pasti akan gagal. Aku juga berterima kasih, kamu masih bersikap baik hingga saat ini. Terima kasih, untuk senyuman yang masih sama. 
Sepertinya permainan tebak menebak belum juga selesai. Kita sudah terlanjur menjadi teman yang baik untuk memutuskan hubungan ini dan sepertinya terlalu sia-sia untuk mencoba tidak peduli satu sama lain. Kita hanya berkabar sesekali, kamu hanya bertanya kabar ketika hal besar terjadi, banjir di Jakarta misalnya.

"Gimana kamu di Jakarta? saya dengar di Jakarta sekarang sedang Banjir besar"

Aku pun begitu, aku hanya berani menyapa atas dasar khawatir yang sebenarnya nyaliku hanya sebatas menanyakan kabar.

"Hi, di sana masih aman kan? semoga baik-baik aja ya" pertanyaan klasik untuk memulai percakapan yang busuk

Menjelang 2 tahun, setelah terakhir saat aku memberikan dasi itu sebagai kado wisuda mu, kita belum sempat bertatap muka kembali. Katanya Jogja itu kota titik temu tapi sampai hari ini, lagi lagi nyaliku tidak cukup berani untuk menanggung harapan yang akan tumbuh setelah pertemuan nanti. Bukannya Jogja tidak mempertemukan, hanya saja aku yang tidak ingin memupuk harapan. Kamu berkelana sendiri, mengitari setiap sudut kota Istimewa itu, berharap ada aku di sana katanya. Maaf, tapi hampir saja aku percaya.

Pandemic datang, pemerintah berkoar-koar menyuarakan social distancing, disuruh menggunakan masker setiap  hendak keluar rumah, mencuci tangan sesering mungkin dan akhirnya tidak memperbolehkan siapa pun untuk keluar rumah kecuali kebutuhan mendesak. Sekarang giliran aku yang mengalibikan pandemic ini agar bisa memulai percakapan dengan mengirimkan pesan tulisan untuknya.

"Kota mu lockdown juga kaya di Jakarta  gak?"
"Iya, di sini sama saja. Sehat-sehat ya di sana"
"Sure, u too. Ditunggu di Jakarta" bodoh sekali aku, sudah tau sedang lockdown
"Setelah pandemic selesai ya" katamu yang sepertinya meyakinkan

Tak lama kemudian  aku mulai mencari tau, kira-kira kapan pandemic ini berakhir, dengan begitu excited aku membaca beberapa artikel dan sayangnya tidak ada yang mengatakan dengan pasti kapan pandemic ini selesai. Katanya mungkin membutuhkan beberapa tahun ke depan agar semua jenis aktivitas bisa berjalan normal seperti sedia kala. Katanya meski pun jumlah korban yang terdeteksi Covid-19 menurun, tidak ada yang benar-benar bisa menjamin virus tersebut akan hilang sempurna. Lalu kapan pandemic ini berakhir?
Sepertinya tulisan tentang 'Aku' versi setiap tahunnya harus diupdate, terakhir kemarin aku menulis tentang '20 of ME' yang tidak terasa tulisan itu hampir 2 tahun lalu. Aku pernasaran dengan 'aku' di tahun depan, 2 tahun lagi, 3 tahun lagi atau pun 10 tahun lagi, bagaimana dengan sudut pandang aku tentang hidup, tentang diriku sendiri, dan semua  tentang perjalanan yang melibatkan raga maupun jiwa.

Aku jadi tau sekarang mengenai harapan dan mimpi, hal itu hanya beberapa persen dari peluang untuk jadi kenyataan. Entah dari kapan, sepertinya aku sudah lupa untuk punya mimpi. Mimpi itu pernah diingat, lalu dibayangkan oleh ku tapi semakin hari dunia semakin menyempitkan harapan untuk terwujud. Bangun! yang penting kamu sudah bertahan saat ini saja sudah bersyukur, itu lah yang kini aku bilang kepada diriku sendiri.

Aku mulai menghindari percakapan dengan orang, mencari waktu untuk mencoba membaca pikiran ku sendiri, namun sebenarnya itu bukan menghindar tapi aku hanya menutup siapa saja yang akan atau pun berpotensi menyakiti ku. Aku pun tau, aku pasti pernah dan masih berlaku jahat dengan orang, aku pun melukai, menyakiti. Aku berbuat kesalahan, sama seperti bagaimana orang lain yang pernah melukai maupun menyakiti ku tapi aku hanya ingin sedikit ketenangan, riuh di kepalaku saja sudah cukup membuat aku muak, aku tidak ingin menambah beban hatiku lagi untuk menjaga hati banyak orang.

    Sepertinya sudah banyak hal yang dilewatkan, tapi semuanya tak kunjung 'Selesai'. Selalu begini, omongan itu pula yang pernah aku lontarkan kepada 'Aku' yang sebelumnya. Aku  selalu menjadi toxic untuk diriku sendiri, memupus harapan dengan alasan tidak ingin kecewa  nantinya, tapi pada akhirnya sama saja, aku tetap kecewa dengan apapun itu. 

Berjalan, berliku-liku, berkilo-kilo meter namun tetap saja tidak ada ujungnya. Berusaha sebaik mungkin hingga rasanya lelah dan ingin menyerah tapi hasilnya tetap saja kan? kadang kita tidak punya pilihan lain selain bertahan. Menanamkan sikap teguh di diriku sendiri, hingga hari ini aku hancur kembali. Atas semua mimpi yang semakin jauh, untuk semua keringat dan lelah yang sepertinya tidak membuahkan apapun. Aku capek.



Newer Posts Older Posts Home

Kamu adalah pembaca ke -

Beberapa tulisan lain

  • ►  2022 (3)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Jan (1)
  • ▼  2020 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Jun (1)
    • ▼  May (3)
      • The Book of 2019
      • Setelah pandemic selesai
      • 22nd of me
  • ►  2019 (6)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Mar (1)
    • ►  Feb (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Feb (1)
  • ►  2016 (9)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Jan (4)

Berdasarkan Kategori

  • Another 4
  • HeadAndHeart 16
  • Journaling Challenge 7
  • Opinion 2
  • Poem 3
  • Random 2
  • Rantau 5
  • Story Of Me 3

POPULAR POSTS

  • DOA SANG PENJUAL SOAL LATIHAN-Story of me (Part 1)
  • The Book of 2019
  • Sabit ke Purnama
Powered by Blogger.

Debymustikas

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates