questions
Selamat,
Setelah akal, juga asa yang mulai tanggal
Melebur bersama angin yang kau hirup setiap pagi
Dihadapan embun dan matahari yang masih sama

Tapi,

Kata-kata tetaplah kata-kata 
Tertumpuk rapi dibalik laci meja
Berharap untuk di-eja tapi enggan menampakkan abjadnya

Dan juga,

Aku tetaplah aku
Manusia yang masih bersembunyi dibalik sajaknya
Menyatakan hibat dalam bentuk bisu

Selamat, aku memilih hilang



P.S: ditulis oleh salah satu teman tulisan saya, terlalu bagus kalo cuma saya doang yang membacanya



    Ketika sabit masih merah melengkung, kita hanyut dalam rasa yang melarung kekhawatiran. Rasa khawatir tentang saling menyakiti, maupun rasa khawatir tentang salah mencintai. Kita sepertinya pernah mengabaikan rasa itu, meskipun aku tidak terlalu yakin. Bagaimana dengan mu?

    Jemarimu merekat erat, membendung naluriku yang tak ingin jauh. Lima belas menit terakhir, ketika tatapan kita yang tak mau mengakhiri perjumpaan. Hanya diam, tanpa ucapan apapun selain resah yang mengisyaratkan "aku masih rindu".


    Purnama kini hampir usai, lengkungan sabit mulai pudar, seiring dengan lengkungan senyumku. Dua tiga kali, aku mengalah pada ego dan harga diri, aku hanya ingin kamu di sini. Tapi ketukanku belum cukup untuk membuatmu membuka pintu ragumu.


    Lalu sebelum jawaban dari usahaku ada, kamu lenyap ke dalam ruang hampa yang tidak mengizinkan aku ikut ke dalamnya. Entah apa alasannya, tapi mungkin karna aku bukanlah siapa-siapa. Mungkin aku yang memang tak sesuai ekspetasi pembacanya.


    Kata 'Hampir' selalu ku temui di setiap ujung dari sebuah akhir. 
Bahkan sesingkat sabit ke purnama saja, aku tak kuasa menahanmu menetap lebih lama. Bahkan tak sampai purnama usai, kamu sudah memaksaku untuk segera selesai. 


Umur ku masih 21 tahun, iya masih sangat dini untuk membicarakan tentang pernikahan, akan tetapi aku di sini hanya ingin berbagi perspektifku sebagai manusia yang belum beranjak tua dan dewasa.

Tidak sedikit orang di sekitarku yang tertarik mengenai menikah muda, alasannya macam-macam tetapi ada beberapa dari mereka ingin menikah muda karna alasan yang sangat janggal (bagiku) yaitu “karna mereka seorang perempuan”. Katanya “kalo perempuan ngapain nikah lama-lama?”

Jika begitu maka, apakah seorang wanita tidak boleh untuk menikah diwaktu yang melebihi orang-orang pada umumnya?

Menikah menurutku adalah sebuah perjanjian yang aturannya tidak boleh dilanggar oleh kedua belah pihak, perjanjian terhadap Tuhan, perjanjian di hadapan seluruh keluarga, dan yang terpenting perjanjian terhadap diri masing-masing bahwa mereka akan bersama-sama sepanjang hidupnya. Dalam memutuskan untuk menikah banyak hal yang perlu di perhatikan, bayangkan kita hidup bersama-sama dengan orang lain itu seumur hidup, bukan lagi setahun, dua tahun, lima tahun atau sepuluh tahun tetapi seumur hidup.

Bagiku dalam melakukan sesuatu harus memiliki tujuan, apalagi pernikahan yang menurutku termasuk salah satu langkah terbesar dalam hidup. Tujuan menikah itu apa sih? Jawaban dari masing-masing orang tentu sangat beragam, jika seperti ini berarti tolak ukur dalam memutuskan untuk mencapai sebuah pernikahan itu berbeda, entah laki-laki atau perempuan bebas untuk menikah di waktu yang ia mau, itu menurutku.

Tapi hal ini tentu tidak mudah, terlebih lagi jika kita tinggal di lingkungan yang masih erat dengan budaya ‘biasanya’, ‘biasanya perempuan nikah itu umur dua puluhan’, ‘umumnya sih kalo cewek umur 25 tahun udah nikah’. Sebuah kebiasaan yang turun menurun di sebuah lingkungan terkadang membuat suatu tolak ukur dalam melakukan sesuatu bahkan untuk menilai suatu hal, padahal budaya ‘biasanya’ ini menurutku tidak bisa diaplikasikan di semua masa/periode, ya karna tentu di masa yang lalu dan sekarang berbeda jauh.

Ibuku menikah di umur yang tergolong cukup muda, selesai mengampu pendidikan di sekolah menengah atas, beliau memutuskan untuk berkeluarga. Namun hal ini tentu saja dipengaruhi oleh minimnya pola pikir masyarakat jaman dulu tentang sekolah, tentang masa depan. Kata ibuku ‘kalo gak nikah ya mau apa lagi, toh yang lain sudah banyak yang duluan menikah’. Jaman telah berubah, tentunya di era sekarang ini pola pikir masyarakat pun berkembang, salah satunya mengenai pendidikan yang mana dijaman sekarang seorang wanita harus berpendidikan yang tinggi. Walupun aku tau setiap orang pasti memiliki goals dan aturan yang berbeda dalam hidupnya.

Jika kita akan menikah, tentunya yang pertama pastikan dulu tujuannya jelas. Ingat seumur hidup itu lama. Sebelum melangkah dalam sebuah rumah tangga, sebelum memutuskan untuk menikah pastikan dulu tujuannya jelas. Jangan menikah hanya karna sudah umurnya, apalagi menikah karna yang sebayanya sudah menikah.

Di sini aku tidak bermaksud untuk mengambil perpektif yang negatif mengenai nikah muda, tapi aku hanya ingin berbagi mengenai pendapatku sendiri tentang nikah muda, barangkali ada yang mau ikut berbagi opini. Silakan. Xo 
Desember, begitu banyak yang ingin ku sampaikan hingga kata-kata tak lagi tercukupi, lalu akhirnya menggiring gerimis kecil di pipiku. Rasanya begitu banyak hal yang telah dilewati, namun jika melihat ke depan rasanya beribu-ribu jauh lebih menakutkan dari pada sekarang, masa depan jauh menakutkan. 

Hidup itu singkat, aku tahu itu. Sebagai manusia normal, aku berhak untuk mengeluh, namun sepertinya keluh kesahku masih terlalu dini untuk ku luapkan, melihat begitu banyak pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang-orang disekelilingku. Aku merasa aku hanyalah seonggok daging yang hanya kecewa karena tidak diperhatikan oleh pemiliknya.

Dulu rasanya begitu banyak hal yang mudah untuk dilakukan, melihat dari sudut pandangku yang tentunya masih sangat berbeda dari aku yang sekarang. Sekarang aku lebih banyak khawatir, bahkan untuk bertahanpun seorang manusia perlu berusaha mati-matian agar tetap hidup. Mencari berbagai kebahagiaan dan perhormatan atas dirinya sendiri maupun  dimata orang lain.

Hidup selama 20tahun ini, Entah berapa banyak rasa syukur yang seharusnya aku ucapkan, namun alih-alih bersyukur aku malah lebih sering memilih untuk mengeluh, dan selalu merasa bahwa aku adalah makhluk paling mengenaskan. Rasanya aku belum pantas untuk mengeluh, sama sekali tidak pantas. 

Setiap hari dipagi yang masih biru tua, ada seorang wanita paruh baya yang rela bangun lebih dulu, dia rela tidur lebih singkat, dan rela makan lebih sedikit, serta rela untuk apapun demi aku. Terkadang ia marah terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa membantuku, ia juga sering kecewa terhadap takdirnya  karena merasa bersalah kepadaku, selain diriku ada manusia lain yang lebih menyalahkan takdirnya sendiri. Ia marah, karna tidak bisa memberikanku nasib yang lebih baik.

 Aku, seorang anak yang seharusnya lebih pandai untuk mengucap syukur. Seorang anak yang sejatinya selalu menjadi murid untuk ibunya, ibuku adalah guru hidup terbaik. Seharusnya lain kali pada hari Ibu aku bisa membelikannya sesuatu, entah baju, kain ataupun mie ayam sekalipun tak apa, yang penting sebuah penghargaan karena ia telah ada, bukan karena telah melahirkanku tetapi bersyukur karna ia telah lahir menjadi ibuku. Ia sungguh layak mendapatkan penghargaan itu.


PS: tulisan setahun yang lalu, kenapa ya tulisan sangat sulit untuk diungkapkan langsung haha semoga suatu saat nanti ibu bisa baca. Selamat ibu, sudah menjadi ibu terbaik, sekaligus orangtua terbaik.

Semakin bertambahnya umur, akan semakin menyempit ruang circle of friends di kehidupan kita. Teman untuk cerita, teman untuk bertukar pikiran atau teman untuk mengemukakan pendapat semakin sedikit dan malah semakin merucut ke orang itu-itu saja, iya gak sih?

Parahnya ada kalanya saya merasa bahwa teman terbaik untuk bertukar cerita adalah pikiran kita sendiri. Sebetulnya, bukan mencoba menutup diri sih, tapi untuk menceritakan mengenai sesuatu ke orang lain itu butuh effort yang lebih. Bergelut dengan pikiran sendiri itu pun, bukan hal yang gampang, karna terkadang bukanya menemukan solusi malah jadinya depressi (ini lebay sih). Tapi intinya, akan ada suatu masa kita membutuhkan orang lain, sekalipun itu hanya untuk bertukar cerita.

Perubahan yang saya alami ini, saya rasakan sekali ketika masuk di dunia perkuliahan. Ketika kami semua seolah sedang dalam sebuah arena pertandingan, yang membuat kami terfokus dengan peran dan goals masing-masing dan akhirnya kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Pernah gak kalian merasa sefrekuensi dengan orang, lalu di suatu waktu ketika kalian bertemu malah merasa bahwa kalian tidak memiliki kesamaan itu lagi? Atau gampangnya aja deh. Pernah gak kalian berteman baik dengan seseorang terus di suatu masa tiba-tiba kalian seperti tidak mengenal lagi orang tersebut?

Kalo pernah..
Lalu pertanyaannya apakah kalo begitu frekuensi dalam pertemanan bisa berubah?

Jawabannya adalah bisa.

Ketika masa berubah, lingkungan kita berubah, orang-orang disekitar kita berubah maka lambat taun kita juga akan ikut berubah. Sebetulnya ini adalah proses alami manusia yang memang akan melalui terms ini, jadi perubahan ini pasti ada di masing-masing individu.

Pribadi dan pola pikir manusia berkembang dari waktu ke waktu, dalam hal ini lingkungan pastinya berpengaruh besar dalam membentuk pola pikir manusia itu sendiri, in the other case lingkungan masing-masing kita kan berbeda, jadi bisa katakan pembentukan pola pikir kita pun akan berbeda tergantung dengan situasi dan kondisi lingkungan orang tersebut.

Perbedaan pola pikir ini lah yang membuat adanya suatu perbedaan sudut pandang, yang seolah-olah hal itu menggiring kita untuk menganggap bahwa kita memiliki frekuensi yang berbeda dengan orang tersebut dan merasa bahwa sudut pandang kita yang paling benar.

Dalam suatu perbedaan pendapat dan sudut pandang sebetulnya tidak penting siapa yang paling benar ataupun yang tidak benar, karna sekali lagi suatu hal bisa dilihat dari beberapa sudut pandang tergantung kita mau mengambil sudut yang mana. Kalo bisa berbagi pendapat, kenapa harus beradu pendapat?

Saya memiliki teman yang sangat senang sekali berdiskusi, ada kalanya kami mempunyai sudut pandang yang berbeda, tetapi dari hal itu malah membuat saya membuka pikiran bahwa di setiap permasalahan ataupun topik kita jangan hanya serta merta melihat dari satu sudut pandang saja. Bisa jadi ada sudut lain yang bisa membuat kita berpikir lebih rasional. Banyak hal yang bisa kita lihat, dari dia saya belajar mencoba untuk menghargai pendapat orang lain.

Buka lah mata kita untuk melihat hal-hal yang sudah ditinggalkan, apakah ada hal lain lagi yang perlu untuk diselamatkan?
Hallo, teman tulisan.


    Kiranya aku bisa mengenalimu dengan benar, memahami maksud dari  alasan dibalik fase yang kau sebut ‘istirahat’. Duka apa yang bisa kau bagi bersamaku, jika sekiranya dapat meringankan penat di kepalamu maka aku siap membantu. Jangan begini, meninggalkan orang lain bertanya lebih “kau kenapa?”

    Kita tentu sama-sama memiliki cela. Bedanya, aku orang yang mudah untuk dibaca. Hanya dengan sedikit berbicara, aku rasa kamu bisa mengenalku dengan banyak. Entah jurus atau mantra apa yang kamu pelajari untuk pandai dalam membaca hati. Tetapi semua itu, aku syukuri setidaknya tak usah aku bersusah payah untuk bercerita.

    Sekarang giliranmu, luapkan saja resah dan kegundahan mu padaku, aku pun penasaran pada hati yang kau sembunyikan. Tidak, aku harap kamu tidak salah paham, aku hanya ingin mempersilahkan untuk kecewamu pergi. Mungkin kau sedikit tidak percaya, tapi mungkin dalam hal ini bisa membuat mu lebih lega.

    Jika sekarang kamu sedang mencari arti kata 'tenang', maka semoga apapun alasan dibalik semua itu, aku harap tidak ada lagi hati yang tak kau buka, tak ada luka yang kau biarkan menganga. 

    Aku doakan semoga kau masih memiliki tenaga, untuk sekiranya bersabar lebih lama. Selamat berkelana, jangan lupakan hati yang tetap butuh tempat untuk berhenti.


Newer Posts Older Posts Home

Kamu adalah pembaca ke -

Beberapa tulisan lain

  • ►  2022 (3)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Jan (1)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (3)
  • ▼  2019 (6)
    • ▼  Sep (1)
      • Selamat
    • ►  Jul (1)
      • Tak Sampai Purnama Usai
    • ►  Mar (1)
      • Menikah Muda
    • ►  Feb (3)
      • 20th of me
      • Apakah frekuensi bisa berubah?
      • Teman Tulisan
  • ►  2018 (5)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Feb (1)
  • ►  2016 (9)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Jan (4)

Berdasarkan Kategori

  • Another 4
  • HeadAndHeart 16
  • Journaling Challenge 7
  • Opinion 2
  • Poem 3
  • Random 2
  • Rantau 5
  • Story Of Me 3

POPULAR POSTS

  • DOA SANG PENJUAL SOAL LATIHAN-Story of me (Part 1)
  • The Book of 2019
  • Sabit ke Purnama
Powered by Blogger.

Debymustikas

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates