Tak Sampai Purnama Usai



    Ketika sabit masih merah melengkung, kita hanyut dalam rasa yang melarung kekhawatiran. Rasa khawatir tentang saling menyakiti, maupun rasa khawatir tentang salah mencintai. Kita sepertinya pernah mengabaikan rasa itu, meskipun aku tidak terlalu yakin. Bagaimana dengan mu?

    Jemarimu merekat erat, membendung naluriku yang tak ingin jauh. Lima belas menit terakhir, ketika tatapan kita yang tak mau mengakhiri perjumpaan. Hanya diam, tanpa ucapan apapun selain resah yang mengisyaratkan "aku masih rindu".


    Purnama kini hampir usai, lengkungan sabit mulai pudar, seiring dengan lengkungan senyumku. Dua tiga kali, aku mengalah pada ego dan harga diri, aku hanya ingin kamu di sini. Tapi ketukanku belum cukup untuk membuatmu membuka pintu ragumu.


    Lalu sebelum jawaban dari usahaku ada, kamu lenyap ke dalam ruang hampa yang tidak mengizinkan aku ikut ke dalamnya. Entah apa alasannya, tapi mungkin karna aku bukanlah siapa-siapa. Mungkin aku yang memang tak sesuai ekspetasi pembacanya.


    Kata 'Hampir' selalu ku temui di setiap ujung dari sebuah akhir. 
Bahkan sesingkat sabit ke purnama saja, aku tak kuasa menahanmu menetap lebih lama. Bahkan tak sampai purnama usai, kamu sudah memaksaku untuk segera selesai. 

0 Comments