Kata perkata yang aku
eja adalah buah hasil dari sebuah keheningan yang diciptakan oleh diri sendiri,
ketika sebuah tulisan menjadi salah satu jati dirimu, menjadi sebuah saksi
bahwa aku pernah marah kepada nasibku sendiri, pernah merindu hingga
berwindu-windu, pernah begitu menyukai hingga akhirnya memilih untuk menyudahi,
ataupun atas segala perasaan yang terkesan namun tak pernah berpesan.
Semua makna yang
sebenarnya hanya di pahami oleh sendiri seperti sakit hati yang sebenarnya
hanya diobati oleh permaafan dari diri sendiri, tapi ini lah aku. Tulisan ini
menandakan bahwa aku punya rasa yang mungkin tidak pernah tersiarkan kepada
siapapun, walaupun dengan adanya tulisan ini mungkin salah satu dari beberapa
orang pernah meraba bahwa yang ku sebut sebagai objek adalah dia. Lalu biarkan
saja dia, kamu ataupun kalian menebak, toh yang tau hanya aku. HAHAHA.
Kalimat yang tersampaikan disini menjadi salah satu caraku untuk mengungkapkan beribu rasa yang tidak
pernah bisa bersuara. Aku, ini lah aku dengan segala pikiran singkatku. Aku
yang bahkan terlalu acuh terhadap rasaku sendiri. Maka sesungguhnya dengan
tulisan aku dapat menjadi apapun yang aku mau, berbohong dengan tulisan pun aku
bisa (jika aku mau). Namun disini aku hanya ingin ini menjadi salah satu
pengingatku, tentunya waktu akan berjalan maka itu aku akan mencoba
mengabadikan rasa ku sendiri disini. Menjadi diriku sendiri, tanpa menjelma
untuk menjadi siapapun, aku senang merangkai berjuta-juta keluh kesahku
sendiri, dengan begini kalo suatu saat nanti aku merindu akan ceritaku sendiri,
maka aku bisa membaca celotehan cerita ini. Mencoba menebak-nebak rasa yang
pernah ku rasa, ataupun mencoba mengingat apapun rasa kecewa dan lara yang
tertuang di dalam setiap tulisan kalimatnya.
Sebuah
proses terjadi di kota ini, peralihan antara dunia belasan tahun menjadi dunia
duapuluhan, dari aku yang berumur kepala satu hingga sekarang aku sudah
berkepala dua. Disini aku tumbuh, mengenal kota ini selama tiga tahun
kira-kira. Mengalami berbagai kehidupan disini, mencari, menerima dan memberi,
aku mulai mengenal arti kata itu ya disini. Belum semua sudut dari kota ini
sudah pernah ku jangkau, mungkin aku hanyalah satu dari beberapa puluh ribu
mahasiswa yang hampir tidak pernah menjelajah ke luar kelurahan mbarek dan
sekitarnya.
Aku yakin orang-orang diluar sana sedang iri padaku karena bisa
singgah di kota ini, disini adalah kota impian katanya dan aku setuju! Banyak
teman yang selalu menyalahkan kemalasanku, menurut mereka aku hanyalah orang
yang menyianyiakan rejeki, sudah dikasih hidup di jogja malah tidak pernah
menjelajah kota ini sama sekali. Pemalas! Yaa pemikiran ku juga sama mengenai
diri ku sendiri, sampai detik ini pun aku masih bertanya-tanya, apa saja yang
sudah ku kenal mengenai kota ini? Kemana sajakah aku? Dan jawabanya selalu sama
berujung dengan penyesalan dan menyalahkan diri sendiri. Tentu saja aku tau di
dunia luar sana banyak hal tentang jogja yang belum ku temukan, tetapi dengan
keterbatasanku ini aku tetap mengaguminya. Mengagumi kota ini, seperti aku
mengagumi kamu yang sama-sama membuatku enggan untuk beranjak pergi. Hehe.
Jogja
menjadi sebuah bukti dari sebuah cerita, setiap jengkal ratusan meter lampu apill yang ku temui,
setiap detik waktu tempuh yang harus ku lalui pada perempatan kentungan,
ataupun setiap minggu yang harus ku tunggu hanya untuk sekedar memanjakan mata
dengan berbagai lapak sunmor, aku yakin aku akan merindu kota ini. Tetapi apa
yang menjadikan Jogja sebegitu istimewa untuk aku sendiri? Oke, menurutku Jogja
istimewa karena cerita itu ada, akan tetapi cerita itu tidak akan seistimewa
bila ia tak ada jogja. Intinya Jogja mempunyai arti dan bukti bahwa cerita ini
sangat dinanti dan berarti.
Jogja tempatku tumbuh dan berproses menjadi dewasa
dan menjadi sedikit agak tua, Jogja adalah wadah tumbuh nya sebuah cerita,
Wadah tumbuh untuk setiap untaian kata yang terurai dengan sebegitu
menjuntai tentang cinta, untuk setiap
dan beberapa alasan yang ku buat sendiri untuk tidak merindu disini, untuk
berjuta-juta pemikiran tentang prasangka dan rekayasa diri, maupun untuk segala
pesan yang tidak tersampaikan melalui suara dan telinga ataupun mengenai
kebimbangan atas segala pertanyaan dan pernyataan yang dimaksudkan untuk
mencari jawaban hati. Jika disingkat Jogja itu tentang Harapan, Cita dan Suka. Hallo
Jogja! Terimakasih untuk mu sebagai wadah cinta dari cerita masa mudaku.
Definisi Bahagia
Bahagia = Bersyukur
Bersyukur adalah cara terbaik untuk lebih Bahagia.
Ingat bersyukur itu dirasa bukan dicari jawabannya! Karna bersyukur adalah bukan pertanyaan melainkan pertahanan dalam hati. Entah menurutku bersyukur sangat mujarab dalam mengobati rasa sedih maupun rasa yang bahkan tidak pernah km terka sebelumnya, karna setiap orang pasti memiliki jalan cerita yang berbeda maka dari itu hidup harus disyukuri dan dinikmati selagi masih bisa dilakukan.
Mulailah dari sedikit demi sedikit, percayalah bahwa kebahagiaan lahir dari seberapa besar nikmat dan rahmat yang seharusnya kita syukuri.
Bersyukur tentu melahirkan aura baru serta rasa baru, bersyukur membuat kita selalu berfikir positif bahwa segala sesuatunya sudah ada yang mengatur, bahwa segala sesuatunya adalah perjalanan cerita yang terbaik menurutNya. Tuhan mengirimkan kita cobaan karna Tuhan anggap bahwa kita mampu untuk menghadapinya. Jadi untuk menghadapi segala sesuatu nya mulailah dari bersyukur.
Sebenarnya bersyukur juga bisa membuat kita lebih menghargai diri sendiri 'love your self', karena dengan bersyukur terkadang kita jadi lupa untuk mengeluh, jadi lupa untuk menyalahkan diri sendiri dan akhirnya balik lagi, kita akan selalu berfikir positif. Jika kau ingin bahagia mulailah dengan mencintai syukur, dan percaya bahwa setiap bahagia itu tercipta dari sesuatu apa yang kita rasakan, bukan dari apa yang kita punya. Jadi mulalilah bahagia dengan cara bersyukur dan bersyukur. Seberapa besar rasa syukur kita terhadap sang Pencipta maka semakin besar rasa bahagia yang kita dapat.
Selamat mencoba
Ketika semua penatmu membuatmu tertipu, hanya rindu yang membangunkan mu bahwa semua jarak ini sungguh nyata. Menarikmu untuk kembali pulang, menyambut hal-hal baru yaitu sendu. Hati mu kembali lagi berjumpa secara tidak sengaja, pertemuan dengan dia lewat mimpi. Dan akhirnya membuatmu gugup dan mengakui bahwa rindu ini benar-benar candu.
Pulanglah, jikala kamu yakin bahwa tatapan dan senyuman mampu mengobati tanpa harus membuatmu berharap lagi. Pulanglah, jikala kamu percaya bahwa kamu mampu bertahan dan siap berharap untuk kali kedua. Pulanglah, jikala memang hati mu telah siap untuk menemukan sisa rindu yang dulu. Kalau tidak? Jangan coba!
Jangan percaya bahwa tatapan mampu melumpuhkan sebuah penyakit bernama rindu, ia hanya sekedar mengobati tanpa berani untk menyembuhkan. Rindu bagiku adalah sebuah ambigu. Penawarnya? Entah hanya waktu yang tau.
Dari aku yang seketika rindu ibu.
Menahan semua rindu menjadi sebuah tulisan. Doakan lah
semoga rasa ini tidak pernah salah sasaran. Sesungguhnya aku sama sekali
tidak mempunyai skill untuk melupakan. Tapi dengan adanya tulisan ini semoga
semua bisa terluapkan. Ragamu, jiwamu dan rasamu tumbuh disetiap untaian kata,
yang dipersatukan menjadi sebuah kalimat, dan akhirnya menjadi sebuah paragraf
dengan penuh makna yang diiringi tanya.
Mau jadi apa tulisanku tanpa kamu?
Biarkan saja kamu jadi pemeran utamanya. Dengan ini mungkin
aku bisa lebih berusaha dalam menganalisa, hingga nanti aku jenuh dalam menerka
dan berprasangka. Lalu aku akan merindu lagi, dan akhirnya terluka kembali dan
lahirlah sebuah rasa kecewa. Mungkin maksud hati ini benar, bahwa aku hanya
ingin sedikit saja menjadi bagian dari salah satu alasan lengkung senyummu.
Tetapi siapa sangka bahwa semua rasa ini akan sia-sia, kamu terlalu semu hingga
warnamu tidak bisa kulihat dipelupuk mata.
Maaf jikala tulisan ini tidak akan pernah sampai ke tujuan
yang seharusnya, aku hanya wanita yang tidak pandai berkata. Mengungkapkan? Ah
Tidak! Rasanya prosa lebih mahir dalam meluapkan rasa cinta.
Berkali kali ada kesempatan untuk pergi
Namun tetap saja aku memilih disini
Kamu seperti angin sore
Walaupun Dingin tapi aku memilih untk menikmati senja dikala petang
Ini bukan tentang orang lain
Aku hanya blm menemukan orang yg aku sukai lebih dari aku menyukai mu
Kita impas sekarang
Kamu berkutik dengan penyesalan
Dan aku masih disini dengan ketakutan akan memilih lagi.
Baiklah. Lanjutkan permainan kita dengan takdir
Siapa diantara kita yg berhasil dalam menaklukan waktu
Tunggu saja. Sebentar lagi semua akan berakhir
Aku akan berjalan di jalan ku dan kamu akan belajar untuk menerima orang baru

Kaligung pemalang-jogja
kerangkatan jam 05.26, 1 februari 2017
Aku sedang berjuang menyeka air mataku. Berniat mencoba memberanikan diri agar sedikit tegar, tapi apalah daya aku bukan bang toyip yang bisa mengatasi rindu, bagi ku rindu itu instan bisa dibuat dimana saja dan kapan saja, tapi aku juga bukan rapunsel yang bisa terus di dalam menara menunggu kuda terbang datang.
Aku sang pemimpi bu, aku punya banyak mimpi dan mungkin salah satunya yang sekarang sedang aku perjuangkan. Jam 05.26 kaligung melaju dengan kecepatan tertentu yang tidak kuketahui berapa kecepatannya tapi aku yakin sekarang kereta ini sedang menciptakan jarak yang akan membuat ku rindu oleh kau, ibu.
Terimakasih untuk nasi goreng buatan mu untuk ku sarapan jam 4 pagi tadi bu, baru 11 menit engkau berlalu tapi rasanya sekarang aku sudah terlalu rindu. Sebenarnya sengaja tadi aku mempersingkat pelukan itu, agar air mataku tidak cepat turun. Dan sebenarnya pula sangat sengaja tadi aku tidak berbalik memandang ke arahmu lagi dan melambaikan tangan, karna aku tau aku terlalu lemah untk bernegosiasi dengan air mata.
Kereta mulai berangkat, peluit sudah dibunyikan beberapa detik yang lalu tanda masinis harus menancapkan gasnya. entah sejak kapan ini terjadi tapi mungkin ini bukan kali yg pertama, aku melihat mu menunggu di teras stasiun hingga kereta ku berangkat, dengan raut muka yang tidak dapat ku artikan aku dengan cepat melambaikan tangan dan kau tersenyum. Senyuman tercantik pagi ini. Selamat pagi bu, doakan aku.