Kita tidak pernah tau bagaimana cara semesta berkerja, tidak aku sangka ternyata Tuhan mengembalikan hatiku pada laki-laki bermata sayu yang menatapku dalam hening setahun lalu.
Hanya sabit ke purnama, sesingkat itu kenangan kita, tapi siapa yang sangka perasaan itu terus bergulir dan membuat kita terus berprasangka. Apakah seperti ini akhirnya? lalu pada bingkai tanya-tanya itu, salah satu dari raga kita menolak untuk tau, takut sudah menjalar ke seluruh permukaan. Bukankah menurutmu ini sudah cukup?
Dan boleh ku beritahu, malam kemarin pada pukul 00.42 aku telah jatuh kembali atas semua pengakuan-pengakuan dari pesan yang kamu kirimkan. Sudah banyak jeda untuk perjalanan kita, tapi akhirnya selalu sama kan? hanya seperti berjalan di tempat, tidak berpindah kemana-mana. Aku sempat berdoa, semoga Tuhan menghukum kamu dengan mengingatku terus menerus. Batasku hanya meminta, selebihnya terserah kamu. Why isn't love enough?
Dulu aku pernah segois itu, mengikat dalam dekapan lalu mengunci ruang-ruang lain agar kamu selalu ada, seegois itu dengan bahagiaku sendiri hingga lupa bahwa kamu juga harus bahagia, dan tentu saja bukan aku bahagia yang kamu cari.
Semakin kita ingin untuk memulai kembali, kita semakin yakin bahwa mungkin tidak ada yang lebih baik dari yang sekarang. Kita telah sama-sama gagal untuk memulai, tak ada jalan lain yang bisa membawa kita kembali ke awal.
Tak lepas dari bagaimana semua rasa ini yang telah lebur, sudah dari jauh-jauh hari aku tau masamu telah habis, memang benar sepertinya aku lah yang selalu tidak beruntung. Aku, hanya sebuah letih yang membuatmu ingin segera berakhir.
Semoga kamu tau, meskipun tetap berjarak, di belahan bumi lain, aku selalu berdoa semoga kita selalu dipertemukan dengan hal yang baik.

0 Comments