questions

Pernah gak sih kalian ada di satu waktu dimana kepala kalian sesak, banyak yang perlu diluapkan tapi rasanya kaya kehabisan tenaga. Terlalu  malas dan pengennya cuma tidur aja, terus berharap pas bangun besok tiba-tiba isi kepala kalian bisa lebih tenang, padahal kamu tau kalo ini akan jadi malam yang panjang, overthinking akan menyambut kalian sebentar lagi. 

Welcome back, overthinker!

Rasanya pengen bilang "hi world, aku mundur aja deh" atau rasanya pengen sembunyi di dalem goa terus keluar-keluar baru aja selesai perang dunia ke tiga, kalian bingung tapi isi kepala kalian tetap sama. Masalahmu tetap ada di depan mata.

Aku rasa di tahun kemarin aku gak banyak belajar, terasa flat, kaya yaudah biasa aja gitu. Beda sekali dengan tahun ini, banyak pelajaran, pendewasaan, dan hal-hal lain lagi. Nah, di awali pada bulan April 2020 dimana aku diputus kontrak. Aku jadi pengangguran (lagi). Inget banget pas pengumuman di hari itu, ada rasa "ah akhirnya bisa pergi dari sini!" tapi di sisi lain ada pertanyaan lanjutan "abis ini kemana ya?". Aku sempat mengadu kepada ibu dan kakak tapi jawabannya selalu "yaudah, gapapa", ini jawaban template setiap aku cerita kegagalan, meskipun secara tidak langsung, aku jadi tenang karena mereka tidak pernah kecewa. 

Menunggu hari-hari menjadi pengangguran, datanglah kesempatan lain. Ku pikir kali ini adalah nyawaku yang terakhir agar bisa bertahan (lagi) di tempat ini. Setelah melewati berbagai macam tes dan wawancara yang cukup menguras tenaga, finally i got new job! sebetulnya bukan hobi, tapi entah aku sudah berpindah pekerjaan berapa kali, mungkin jika dihitung dari awal pengalaman kerja ini sudah ke-6 kalinya. 

Beberapa bulan dikerjaan baru, ini seperti ajang dalam lomba tarik tambang. Siapa yang paling kuat bertahan, maka ia pemenangnya. Bukan aku namanya kalo belum mengeluh, demi menjadi terkuat aku sesekali mengalah dengan memberikan waktu lebih dalam bekerja, ku pikir gapapa lah sedikit berambisi. Berjalannya waktu sayangnya aku malah ambruk sebelum berhasil jadi pemenang. Pola pertahananku mulai roboh. Setiap hari aku mendongeng kepada ibu, meyakinkan dengan 1001 alasan kenapa aku harus resign dan bukan ibu juga kalo tidak menjawab "yaudah, gapapa". Aku lega, tapi belum tenang.

Siang itu aku datang ke kantor lebih awal, bercengkrama dengan teman-teman lainnya lalu tidak sengaja bertatap muka dengan atasanku yang sedang lewat. Ia datang ke meja kerjaku sambil membawa laptop, habis meeting sepertinya. Ia berkata "ternyata kamu pinter juga ya". Aku diam, karna aku tau tentu saja itu bukan lah aku. Sejak kapan aku pintar? Beliau berceloteh lagi tentang hal yang masih tidak bisa aku percaya bahwa saat ini aku sedang diberi pujian. Aku mengucap terima kasih meskipun saat itu aku masih tidak percaya diri dengan isi otak ku dan juga kemampuanku. 

Singkat cerita tidak lama setelah itu, aku dapat email untuk melakukan wawancara untuk posisi baru di kantor. Aku cukup kaget dan takut kecewa, jujur aku takut gagal, padahal apa salahnya sih kalo gagal? Lagi dan lagi, aku diwawancara dan diintrogasi tentang kemampuan diri. Aku banyak doa, meski pun tidak lebih banyak dari doa Ibu, tapi aku tetap berusaha memberikan presentasi yang terbaik. 

Selang dua minggu, ada email masuk dan isinya adalah aku berhasil pindah lagi untuk yang ke-7 kalinya!  Teman-teman mengucapkan selamat, aku pun berterima kasih dengan mereka semua yang sudah ikut mendoakan. Pelukan selamat aku terima dengan rasa masih tidak percaya. Satu hal yang ingin sekali aku lakukan setelah mendapatkan kabar itu adalah aku ingin segera menelpon Ibu, karena waktu itu aku masih di kantor jadi aku urungkan niatku dan memutuskan untuk menelponnya saat sudah di tempat kost. Telepon berdering, aku memberi taunya mengenai kabar baik ini dan seperti biasa kami yang memang tipikal gampang nangis ini saling berlomba mengucap syukur dan haru.

Hampir empat bulan berlalu aku menjalani perkerjaan yang baru. Baru saja tadi sore aku mengobrol lagi dengan atasanku, evaluasi bulanan yang rutin dijalankan di divisiku. Beliau menanyaiku dengan kesan dan pesan selama aku bergabung pada team ini, tentu aku mengucapkan banyak terima kasih, aku bilang ia seperti telah memberi nyawa baru untuk aku, lalu katanya "kamu tau kenapa kamu diberi banyak nyawa?". Aku terdiam, karena benar-benar tidak apa jawaban dari pertanyaan beliau tadi, lalu katanya "...karena berkat doa-doa orang baik. Bersyukurlah".

Hi ho! so now aku mau berbagi tentang hal-hal yang aku pelajari di tahun ini, here we go to the list...

  1. Belajar bersikap bodo amat

    Sebenernya secara gak sadar sih aku udah punya cikal bakal sifat bodo amat ini dari dulu, cuma kurang diaplikasikan di kehidupan sehari-hari aja hahaha. Kadang ketika ada orang yang mengomentari atau mungkin ngegosipin kita dan kita ngerasa jengkel atau tersinggung dengan omongan tersebut, sebenernya orang yang paling pertama menghina diri  kita itu ya kita sendiri. Misalnya orang ngomong kita A tapi sebenernya kita ngerasa kita bukan orang yang seperti itu, maka apapun yang mereka omongin ya terserah karna itu gak akan mengubah value dari diri kita sendiri. Kalo kita tersinggung ya secara gak langsung kita sudah meragukan value kita sendiri dong.

  2. Setting boundaries

    Dalam hidup kita itu berhak loh untuk ngefilter siapa aja orang yang ada di hidup kita. Aku punya temen yang dia emang dasarnya orangnya gak enakan, jadi saat dia ada di sebuah circle yang toxic dan dia menyadari itu tapi dia tetep bertahan di dalamnya karena gak enak, gak pengen punya musuh katanya. Padahal ya menurutku, semua orang berhak untuk memiliki healthy circle life, masa kita mau nyimpen tai di deket kita terus. Bau lah!

    Btw aku tahun ini berani untuk ngeblokir orang yang selama ini menurut aku ganggu banget, yeay! say good bye hey toxic!

  3. Comfort me by my self

    Banyak temen aku yang tanya "emang gak pengen deb untuk mencoba lagi?", sumpah i tried my best tapi ya gimana, ragu selalu jadi penghalang nomor satu sih. But i'm totally happy now! sepertinya emang sekarang sedang cinta-cintanya sama diri sendiri, malah kadang mikir "aku sendiri aja udah seneng nanti kalo aku mempersilahkan orang lain masuk ke hidupku terus ternyata malah gak bikin seneng gimana?" hmm maybe next time deh, ada sedikit hampa tapi tetap tenang. 

  4. The art of living alone

    Pandemi 2020 ini aku banyak meluangkan waktu di rumah/ di kost, dari nyuci sendiri, masak sendiri, bebersih kostan, ke supermarket untuk beli persediaan makanan, ke tukang sayur, ke atm, dll. Semua aku lakukan sendiri, ternyata sendirian gak semenyeramkan itu kok! oh iya resolusi tahun 2021, aku ingin nonton bioskop sendirian!

  5. Looking for the meaning of life

    Sebenernya aku belum tau banyak sih tentang makna hidup, tapi menurut ku meaning of life itu ketika kita bisa menikmati setiap moment yang ada di hidup kita, entah senang atau sedih kita tetap tidak kehilangan jati diri kita sendiri.

  6. Having good time with my mom and friends

    Tahun ini karna lebih banyak WFH (work form home) aku jadi sering ngobrol sama Ibu, nemenin Ibu menanam bunga/berkebun, masak, kadang jalan-jalan pagi atau ngobrol via phone dengan teman lama, sepedaan bersama saudara sepupu, dan wisata kuliner via grabfood tentunya hahaha what a beautiful life!

  7. Make a plan! 

    Ini penting banget, dengan membuat perencanaan "what should i do for the next?" itu membantu kita untuk tau arah kita kedepannya mau gimana dan kita juga tau apa sih yang kita mau. You must to try!

  8. Travelling is healing

    Sebenernya aku belum banyak berkunjung ke tempat baru, tapi tahun ini aku lebih sering mengexplore sekitar tempat tinggalku dan ini sangat membantu dalam recharge my energy. Tiap minggu aku selalu mencoba meluangkan waktu untuk sepedaan, kadang sendirian atau kadang ditemenin sama saudara sepupu. Semoga tahun depan sudah bisa berkunjung ke luar kota ya.





  9. Berteman dengan yang baik

    Aku adalah tipe orang yang seneng banget cerita, seneng banget beropini dan ngobrol. Jadi pas aku lagi emang ada yang dirasa kurang enak, pasti larinya kalo gak nulis ya cerita ke orang-orang terdekat. Setiap aku punya masalah dan cerita ke orang-orang itu jawabannya kebanyakan  "yaudah, gapapa", awalnya kesel sih kok  responsnya gitu aja tapi ya kadang ada beberapa hal yang perlu untuk di-gapapain kan dan aku relate banget sih bahwa jati diri kita itu terbentuk dari lingkungan dan beberapa orang yang paling dekat dengan kita. 

  10. Good food makes u good mood

    Sedikit-sedikit lama-lama menjadi buncit :( ayo atur pola makan, biar gak begah! aku selalu makan sayur atau buah setiap harinya.

  11. Healthy life is important

    Aku sedang berusaha sekali untuk olahraga, minimal setiap minggunya 3 kali meskipun itu sangat sulit teman-teman tapi jujur dengan olahraga jadi ngaruh banget sih ke mood aku.

  12. Learning of new thing


    Aku ada cerita sedikit, jadi kemarin aku mengikuti training yang diadakan oleh kantor, karna training itu wajib jadi ya mau gak mau aku harus ikut. Training itu tentang Basic function/features and advanced formula yang ada di excel, ini adalah materi yang udah aku tau sebelumnya waktu SMA dan bahkan kuliah aku mempelajari juga tentang ini tapi karna emang jarang digunain jadi lupa. 

    Sepanjang training itu aku menyimak dengan seksama, because i knew that ini pasti akan berguna sepanjang waktu. Singkat cerita, training selesai terus di week yang sama disuruh untuk mengumpulkan laporan monthly seperti biasa, terus aku kan anaknya random abis, lalu kepikiran kayanya aku harus mencoba menerapkan rumus yang aku pelajarin kemarin ke data yang sedang aku kerjakan itu and surprisingly berhasil wkwkwk senang sekali

  13. Journaling your daily life

    Aku baru memulai lagi untuk journaling my daily life, sebenernya kalo sebelumnya juga aku nulis sih cuma ya nulisnya kalo emang ada yang dirasa gak enak aja dan i swear ini sangat membantu lalu aku jadi mikir kayanya seru juga kalo kita nulis setiap hari, asik banget kan  mengabadikan cerita kita sendiri lewat tulisan. aaaaakkkkk

  14. Stop looking for happiness at the same place that you lost it!

    Aku pernah ada di relationship yang secara gak sadar itu toxic, setiap hari aku tanya sama diri sendiri "aku kurangnya apa sih?" aku selalu menyalahkan diri sendiri dan kecewa karena gak bisa membuat orang tersebut menetap untuk waktu yang lama, i said to him that i need him and i wanted him back tapi ya di sini konsepku yang salah sih, kita gak bisa menggantungkan kebahagiaan kita ke orang lain, karna sesungguhnya bahagia itu ada dikendali kita kok! 

  15. Evaluasi diri

    Aduhh ini penting bangettt, kadang ada satu hal yang aku ngerasa kalo jendela sudut pandangku sudah benar kok. Kita perlu loh untuk melihat atau menilai sesuatu dari jendela yang lainnya juga, jangan mau dibohongi ego! Kadang aku sering tanya ke temen-temen deket aku "evaluasi aku dong, menurut kalian aku gimana?" hahahaha

  16. Dari pada menyesali sesuatu yang sudah terlewatkan, lebih baik mensyukuri apa yang ada saat ini. Banyakin bersyukur!

  17. Pendewasaaan itu proses pembelajaran seumur hidup, jangan takut salah! move up!

  18. Amor fati (mencintai takdir)

    Setiap hal yang terjadi di hidup kita adalah cara Tuhan dalam berkomunikasi dengan hamba-Nya, ada sebuah pesan yang dititipkan.

  19. Produktif! jangan kalah dengan nyaman

    Kalo hari libur aku biasanya lebih banyak dihabiskan dengan rebahan, terus abis rebahan biasanya aku rebahan lagi, kalo aku bosen rebahan aku istirahat dengan rebahan lagi. Ya gitu-gitu terus lah sampai akhirnya aku sadar kadang nyaman pun bisa jadi penghalang untuk kita bisa berkembang. Aku pengennya menjadi orang yang terus bertumbuh dan belajar.

  20. Gak  ada yang salah dari kamu, kita gak bisa menyenangkan semua orang. Itu bukan tugas kita!
    Mau gimana pun baiknya kamu, pasti ada aja orang yang gak suka sama kita.

  21. Mengaku salah

    Seiring berjalannya waktu aku sadar, aku banyak melakukan salah, dari salah pengertian, salah perbuatan, salah perkataan, dll. tapi seperti yang sudah disampaikan sebelumnya bahwa pendewasaaan itu proses pembelajaran seumur hidup. Mengaku salah di hadapan diri sendiri itu perlu, tapi gak perlu juga sampai menyalahkan atau membenci diri sendiri. Kita belajar dari masalah kita sendiri, so its okay.

  22. Respect your self!

    Cari tau apa yang kita mau, banyak ngomong dan ngobrol sama diri sendiri, memaafkan, mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dan berterima kasih kepada diri sendiri untuk kerja kerasnya telah bertahan sampai sejauh ini :)

  23. LET IT FLOW! Universe, your harmony is my harmony, nothing in your good time is too early or too late for me

Dia selalu bersembunyi dibalik rasa khawatirnya itu, tak mau satu orang pun tau sesibuk apa isi kepalanya sekarang. Meskipun takut merangkak naik menyelimuti pikirannya, namun siapa lagi yang bisa ia percaya selain dirinya sendiri?

Ini tengah malam, tengah malam hari selasa jam 00:32 lebih tepatnya. Baru saja aku selesaikan semua tugas hari ini, beberapa bulan terakhir aku sibuk dengan rutinitas baru. Jadi sebetulnya dialog sendiri kali ini cuma ingin berbagi kabar baik, aku sekarang sudah turun level bukan sang pemikir lagi. Entah kemarin aku pakai mantra atau terapi apa tapi yang pasti sekarang aku memperlakukan diriku jauh lebih baik dari sebelumnya.

Rasanya buku motivasi yang aku diamkan dari kemarin, ilmunya baru meresap sekarang. Aku pikir  Tuhan sudah sangat baik, memberiku rasa syukur dan ikhlas yang sudah lebih dari cukup, mungkin ikhlasnya masih perlu diperbanyak lagi tapi aku tetap mengapresiasi diriku sendiri, untuk semua hal yang pernah ada, itu hanya proses dan kita bertumbuh karena hal itu. Just let it flow!

Mungkin di beberapa hal kadang aku masih mengutuk diriku sendiri, namun aku tetap menghargai perasaaan kecewa toh namanya juga manusia wajar kalo sedih, malah aneh kan kalo seneng terus, kurang manusiawi. Susah senang itu kan sementara, aku sangat menjunjung itu.

Caraku untuk lebih mencintai diri sendiri adalah dengan lebih percaya bahwa bahagia sepenuhnya ada dikendaliku. Aku yang menciptakan bahagiaku sendiri and happy girl is me!

Hi, ini aku!

Ini tulisanku tentang dialog sendiri, caraku untuk berevaluasi diri. Mungkin dengan berdialog sendiri, aku bisa lebih bisa memahami diriku sendiri meskipun kadang berdialog dengan sendiri pun gak menghasilkan apa-apa sih tapi ya intinya begitu tujuannya adalah untuk ajak ngobrol diri sendiri, kalo nanti ada dialog-dialog di beda waktu pasti akan aku bagikan lagi.

Aku sepertinya jenis manusia pemikir keras deh bukannya jadi pekerja keras tapi malah jadi pemikir keras ya hahaha. Berkali-kali mencoba berinteraksi dengan pemikiran sendiri, pertanyaannya dari kemarin tetap sama, jadi sebenernya aku harus gimana sih?

Pertanyaan itu terus menerus muncul, seperti buntu dan gak nemu jawaban. Terus menerus mencoba mencari solusi dengan berdialog sendiri, tapi ya tetap saja tidak menghasilkan apa-apa atau mungkin dengan gak ngapa-ngapain itu juga bisa menjadi solusi ketika pertanyaan itu mungkin memang belum ada jawabannya, atau mungkin malah memang sebenernya gak ada jawabannya sama sekali. 
Kita gak mau bikin orang lain kepikiran tapi malah nambah beban pikiran sendiri? itu sih masalahnya 

Dulu aku pikir setelah menjadi dewasa itu kita  akan mengerti semuanya, dari hal kecil atau  pun hal besar pokoknya mengertilah segala jenis tentang persoalan di dunia, tapi akhirnya mulai sedikit paham bahwa mau sedewasa apapun kita untuk semua awal permasalahan hidup adalah kita cuma pemula, mau hidup seratus tahun pun ketika dia baru pertama kali berada di fase itu ya maka dia hanya seorang pemula. Bahkan ketika sudah pernah berada di fase itu pun, belum tentu kita menjadi pemeran yang handal untuk memainkan perannya.

Kita tidak pernah tau bagaimana cara semesta berkerja, tidak aku sangka ternyata Tuhan mengembalikan hatiku pada laki-laki bermata sayu yang menatapku dalam hening setahun lalu. 

Hanya sabit ke purnama, sesingkat itu kenangan kita, tapi siapa yang sangka perasaan itu terus bergulir dan membuat kita terus berprasangka. Apakah seperti ini akhirnya? lalu pada bingkai tanya-tanya itu, salah satu dari raga kita menolak untuk tau, takut sudah menjalar ke seluruh permukaan. Bukankah menurutmu ini sudah cukup? 

Dan boleh ku beritahu, malam kemarin pada pukul 00.42 aku telah jatuh kembali atas semua pengakuan-pengakuan dari pesan yang kamu kirimkan. Sudah banyak jeda untuk perjalanan kita, tapi akhirnya selalu sama kan? hanya seperti berjalan di tempat, tidak berpindah kemana-mana. Aku sempat berdoa, semoga Tuhan menghukum kamu dengan mengingatku terus menerus. Batasku hanya meminta, selebihnya terserah kamu. Why isn't love enough?

Dulu aku pernah segois itu, mengikat dalam dekapan lalu mengunci ruang-ruang lain agar kamu selalu ada, seegois itu dengan bahagiaku sendiri hingga lupa bahwa kamu juga harus bahagia, dan tentu saja bukan aku bahagia yang kamu cari.

Semakin kita ingin untuk memulai kembali, kita semakin yakin bahwa mungkin tidak ada yang lebih baik dari yang sekarang. Kita telah sama-sama gagal untuk memulai, tak ada jalan lain yang bisa membawa kita kembali ke awal. 

Tak lepas dari bagaimana semua rasa ini yang telah lebur,  sudah dari jauh-jauh hari aku tau masamu telah habis, memang benar sepertinya aku lah yang selalu tidak beruntung. Aku, hanya sebuah letih yang membuatmu ingin segera berakhir. 

Semoga kamu tau, meskipun tetap berjarak, di belahan bumi lain, aku selalu berdoa semoga kita selalu dipertemukan dengan hal yang baik.



Kumpulan tulisan di tahun 2019, sepertinya tahun kemarin aku terlalu banyak melewatkan waktu untuk tidak menulis lagi. Sebenarnya, pada beberapa momen terkadang aku menulis di memo ponsel namun ya hanya sebatas itu. Cukup menyesal sih, dikarenakan tidak banyak yang aku post pada blog ini. Hmm baik lah, sepertinya cukup untuk pembukaan The book of 2019. Here we go...

Oh iya aku hanya akan menuliskan beberapa catatan kecil dari salah satu yang ku tulis setiap bulannya, agar buku ini tidak terlalu panjang. Itu saja.


2 Januari 2019

Kita hanya perlu istirahat
Memendam kata agar tidak terus mencerca
Memelihara hati tanpa harus ada benci

Kita hanya perlu diam
Sejenak melupakan beban tanpa alasan
Menyerahkan dunia dengan doa kepada sang Pencipta


7 Februari 2019

Diusia ini definisi cinta menjadi frasa yang sulit diraba
Bukan lagi terpana dengan rupa
Bagiku nyaman saja terkadang bukan jaminan untuk jadi cinta
Apalagi kalau sekedar meramal namanya dalam doa

Parameter dalam penilaian tak lagi sama
Satu dua cela, ragu selalu saja membuat kita tak bisa menerima
Bukan kah manusia tak ada satu pun yang sempurna?
Lalu kenapa susah sekali mencinta tanpa perlu banyak tanya?


10 April 2019

Gadis yang tinggal di hutan

Bahkan aku sudah mengalah pada angin
Hujan tak kunjung berdamai membiarkanku tak kedinginan
Sudah terlanjur basah namun pedih tetap jua tak mau beranjak
Tentunya aku malu dengan ranting dan dedaunan, mereka bahkan lebih tenang

Maksudnya apalagi jika bukan ingin membuat pertahananku gaduh
Gelap bukan takutku, tapi haruskah senyumku padam juga?
Dunia sudah terlalu menekan, namun aku tetap dibiarkan sendirian
Aku lah gadis yang tinggal di hutan


16 May 2019

Kenapa Jogja tidak mempertemukan?

"Everything comes to you in perfect time"

Beberapa bulan lalu kamu berdiri tepat di depan pintu, mengayunkan tangan seakan mengajakku untuk kembali mengejar angan yang tidak pernah pasti.

Aku begitu percaya, tidak ada yang bisa mengalahkan ketika Tuhan sudah berkata ''Tidak'' tetapi setiap kali kamu datang tepat diambang pintu, aku kembali berandai-andai barangkali saja firasatku tempo lalu salah.

Jogja menjadi sebuah pintu kesempatan
Kata mu ''Aku di Jogja, kamu dimana?''
Pesan itu seharusnya aku kirimkan duluan, sebelum kereta yang membawaku pergi berangkat. 

Semenjak hari itu aku percaya, tidak akan ada pintu lain yang akan terbuka. Kamu tidak pernah tepat saat membuka pintu kesempatan, dan tentu saja aku selalu tidak tepat waktu dalam menuliskan sebuah cerita kita. Kita tidak salah, hanya saja ada beberapa hal yang diluar kuasa manusia.


7 July 2019

My thirty days to know u

I'm so glad to meet u
U're kinda the perfect one that  i've ever seen before
U're perfect because being u
U're so perfect because u're loving me

Hey, don't be worried
Let me know your struggle, your dark side and everything else about u
I hate the time when u lose me

Today, let's be more than this. I choose u
No matter how this end, please for now grab my hand and save me
Lets celebrate your birthday in September, i'll wait. 


9 Agustus 2019

Semoga Tuhan mencabut segala rasa bahagiamu
Untuk jiwamu yang sakit ataupun untuk hatimu yang batu
Sesakit-sakitnya kamu, jangan pernah sengaja menaruh luka kepada orang lain

Kamu dan dirimu itu, seharusnya tidak ada lagi doamu yang Ia dengarkan
Seharusnya Tuhan lebih dulu mengutukmu agar tidak merasakan kasih dari siapa pun
Semoga tidak ada manusia lain yang membenci dirinya sendiri karena kamu
Seperti aku sekarang

Yasudah, ini batasku
Selebihnya terserah kamu


22 September 2020

Please, leave me
Even the world is gone
Even my world is lost

Please, leave me
Even u can get hurt
Even i'm the most get hurt

Now, i let u go
Cause, you dont know what kind of heart u give to me
Cause, i dont know how far i can reach u
If u cant find anything and feeling nothing
Please, dont stay.


13 Oktober 2019

Aku memilih menjadi angin
Melenyapkan semua keresahanmu
Menyejukan, saat bumi tak bisa menampung banyak amarahmu

Aku memilih menjadi angin
Aku tak pernah terlihat
Tapi kamu masih bisa merasakannya di ujung jemari itu
Saat kamu membuka tangan dan memejamkan mata, kamu akan tau kalau aku ada

Boleh aku meminta?
Aku ingin menuntut satu hal dan tolong turuti saja 
Mohon jangan gandakan rasa itu untuk orang lain yang bukan aku
Cukup aku saja

Kita tak perlu saling memeluk apa bila kamu sedang senang
Cukup kamu bisa ingat aku ketika tak ada hal lain yang baik di hari mu
Maaf aku seegois ini, tak ingin tampak tapi ingin selalu diingat
Tak apa, katamu aku berhak meminta apapun kecuali raga dan perhatian mu kan?
Maka itu aku minta, tanamkan pada hatimu bahwa tidak akan ada wanita lain yang seperti aku


Back to December 2019

Kamu bisa melaju tanpa aku dan aku pun sudah bisa berhenti untuk memupus harapan untuk terus beriringan. Mungkin berjalan bersama bukan ide yang baik untuk kita, masing-masing dari kita sudah saling memutus rantai yang dari kemarin tak kunjung usai.

Kita hebat ya, kemarin sudah berani memulai meskipun kita belum berhasil mengakhirinya dengan baik. Semoga kelak ini menjadi sebuah pelajaran, aku banyak belajar untuk menerima dan kamu sudah belajar untuk membuka. 

Bukankah kita sangat beruntung karena pernah bersama?
Dari bermilyar-milyar manusia, dan dari sekian banyak orang yang saling bertatap muka, kita sempat membuat satu sama lain bahagia. Kita adalah dua orang yang beruntung.

Maaf aku telah berkali-kali menyuruhmu pergi, dan aku pun minta maaf atas kelacanganku untuk mencoba meyakinkanmu untuk menjaga ku meskipun aku sudah tau bahwa aku pasti akan gagal. Aku juga berterima kasih, kamu masih bersikap baik hingga saat ini. Terima kasih, untuk senyuman yang masih sama. 
Sepertinya permainan tebak menebak belum juga selesai. Kita sudah terlanjur menjadi teman yang baik untuk memutuskan hubungan ini dan sepertinya terlalu sia-sia untuk mencoba tidak peduli satu sama lain. Kita hanya berkabar sesekali, kamu hanya bertanya kabar ketika hal besar terjadi, banjir di Jakarta misalnya.

"Gimana kamu di Jakarta? saya dengar di Jakarta sekarang sedang Banjir besar"

Aku pun begitu, aku hanya berani menyapa atas dasar khawatir yang sebenarnya nyaliku hanya sebatas menanyakan kabar.

"Hi, di sana masih aman kan? semoga baik-baik aja ya" pertanyaan klasik untuk memulai percakapan yang busuk

Menjelang 2 tahun, setelah terakhir saat aku memberikan dasi itu sebagai kado wisuda mu, kita belum sempat bertatap muka kembali. Katanya Jogja itu kota titik temu tapi sampai hari ini, lagi lagi nyaliku tidak cukup berani untuk menanggung harapan yang akan tumbuh setelah pertemuan nanti. Bukannya Jogja tidak mempertemukan, hanya saja aku yang tidak ingin memupuk harapan. Kamu berkelana sendiri, mengitari setiap sudut kota Istimewa itu, berharap ada aku di sana katanya. Maaf, tapi hampir saja aku percaya.

Pandemic datang, pemerintah berkoar-koar menyuarakan social distancing, disuruh menggunakan masker setiap  hendak keluar rumah, mencuci tangan sesering mungkin dan akhirnya tidak memperbolehkan siapa pun untuk keluar rumah kecuali kebutuhan mendesak. Sekarang giliran aku yang mengalibikan pandemic ini agar bisa memulai percakapan dengan mengirimkan pesan tulisan untuknya.

"Kota mu lockdown juga kaya di Jakarta  gak?"
"Iya, di sini sama saja. Sehat-sehat ya di sana"
"Sure, u too. Ditunggu di Jakarta" bodoh sekali aku, sudah tau sedang lockdown
"Setelah pandemic selesai ya" katamu yang sepertinya meyakinkan

Tak lama kemudian  aku mulai mencari tau, kira-kira kapan pandemic ini berakhir, dengan begitu excited aku membaca beberapa artikel dan sayangnya tidak ada yang mengatakan dengan pasti kapan pandemic ini selesai. Katanya mungkin membutuhkan beberapa tahun ke depan agar semua jenis aktivitas bisa berjalan normal seperti sedia kala. Katanya meski pun jumlah korban yang terdeteksi Covid-19 menurun, tidak ada yang benar-benar bisa menjamin virus tersebut akan hilang sempurna. Lalu kapan pandemic ini berakhir?
Sepertinya tulisan tentang 'Aku' versi setiap tahunnya harus diupdate, terakhir kemarin aku menulis tentang '20 of ME' yang tidak terasa tulisan itu hampir 2 tahun lalu. Aku pernasaran dengan 'aku' di tahun depan, 2 tahun lagi, 3 tahun lagi atau pun 10 tahun lagi, bagaimana dengan sudut pandang aku tentang hidup, tentang diriku sendiri, dan semua  tentang perjalanan yang melibatkan raga maupun jiwa.

Aku jadi tau sekarang mengenai harapan dan mimpi, hal itu hanya beberapa persen dari peluang untuk jadi kenyataan. Entah dari kapan, sepertinya aku sudah lupa untuk punya mimpi. Mimpi itu pernah diingat, lalu dibayangkan oleh ku tapi semakin hari dunia semakin menyempitkan harapan untuk terwujud. Bangun! yang penting kamu sudah bertahan saat ini saja sudah bersyukur, itu lah yang kini aku bilang kepada diriku sendiri.

Aku mulai menghindari percakapan dengan orang, mencari waktu untuk mencoba membaca pikiran ku sendiri, namun sebenarnya itu bukan menghindar tapi aku hanya menutup siapa saja yang akan atau pun berpotensi menyakiti ku. Aku pun tau, aku pasti pernah dan masih berlaku jahat dengan orang, aku pun melukai, menyakiti. Aku berbuat kesalahan, sama seperti bagaimana orang lain yang pernah melukai maupun menyakiti ku tapi aku hanya ingin sedikit ketenangan, riuh di kepalaku saja sudah cukup membuat aku muak, aku tidak ingin menambah beban hatiku lagi untuk menjaga hati banyak orang.

    Sepertinya sudah banyak hal yang dilewatkan, tapi semuanya tak kunjung 'Selesai'. Selalu begini, omongan itu pula yang pernah aku lontarkan kepada 'Aku' yang sebelumnya. Aku  selalu menjadi toxic untuk diriku sendiri, memupus harapan dengan alasan tidak ingin kecewa  nantinya, tapi pada akhirnya sama saja, aku tetap kecewa dengan apapun itu. 

Berjalan, berliku-liku, berkilo-kilo meter namun tetap saja tidak ada ujungnya. Berusaha sebaik mungkin hingga rasanya lelah dan ingin menyerah tapi hasilnya tetap saja kan? kadang kita tidak punya pilihan lain selain bertahan. Menanamkan sikap teguh di diriku sendiri, hingga hari ini aku hancur kembali. Atas semua mimpi yang semakin jauh, untuk semua keringat dan lelah yang sepertinya tidak membuahkan apapun. Aku capek.



Newer Posts Older Posts Home

Kamu adalah pembaca ke -

Beberapa tulisan lain

  • ►  2022 (3)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Jan (1)
  • ▼  2020 (8)
    • ▼  Dec (2)
      • Story of me (Part 2) - Banyak nyawa
      • 23 things that i learned before 23th!
    • ►  Oct (1)
      • Dialog Sendiri - 2
    • ►  Jul (1)
      • Dialog Sendiri - 1
    • ►  Jun (1)
      • Sabit ke Purnama
    • ►  May (3)
      • The Book of 2019
      • Setelah pandemic selesai
      • 22nd of me
  • ►  2019 (6)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Mar (1)
    • ►  Feb (3)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Feb (1)
  • ►  2016 (9)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Jan (4)

Berdasarkan Kategori

  • Another 4
  • HeadAndHeart 16
  • Journaling Challenge 7
  • Opinion 2
  • Poem 3
  • Random 2
  • Rantau 5
  • Story Of Me 3

POPULAR POSTS

  • DOA SANG PENJUAL SOAL LATIHAN-Story of me (Part 1)
  • The Book of 2019
  • Sabit ke Purnama
Powered by Blogger.

Debymustikas

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates