Pernah gak sih kalian ada di satu waktu dimana kepala kalian sesak, banyak yang perlu diluapkan tapi rasanya kaya kehabisan tenaga. Terlalu malas dan pengennya cuma tidur aja, terus berharap pas bangun besok tiba-tiba isi kepala kalian bisa lebih tenang, padahal kamu tau kalo ini akan jadi malam yang panjang, overthinking akan menyambut kalian sebentar lagi.
Welcome back, overthinker!
Rasanya pengen bilang "hi world, aku mundur aja deh" atau rasanya pengen sembunyi di dalem goa terus keluar-keluar baru aja selesai perang dunia ke tiga, kalian bingung tapi isi kepala kalian tetap sama. Masalahmu tetap ada di depan mata.
Aku rasa di tahun kemarin aku gak banyak belajar, terasa flat, kaya yaudah biasa aja gitu. Beda sekali dengan tahun ini, banyak pelajaran, pendewasaan, dan hal-hal lain lagi. Nah, di awali pada bulan April 2020 dimana aku diputus kontrak. Aku jadi pengangguran (lagi). Inget banget pas pengumuman di hari itu, ada rasa "ah akhirnya bisa pergi dari sini!" tapi di sisi lain ada pertanyaan lanjutan "abis ini kemana ya?". Aku sempat mengadu kepada ibu dan kakak tapi jawabannya selalu "yaudah, gapapa", ini jawaban template setiap aku cerita kegagalan, meskipun secara tidak langsung, aku jadi tenang karena mereka tidak pernah kecewa.
Menunggu hari-hari menjadi pengangguran, datanglah kesempatan lain. Ku pikir kali ini adalah nyawaku yang terakhir agar bisa bertahan (lagi) di tempat ini. Setelah melewati berbagai macam tes dan wawancara yang cukup menguras tenaga, finally i got new job! sebetulnya bukan hobi, tapi entah aku sudah berpindah pekerjaan berapa kali, mungkin jika dihitung dari awal pengalaman kerja ini sudah ke-6 kalinya.
Beberapa bulan dikerjaan baru, ini seperti ajang dalam lomba tarik tambang. Siapa yang paling kuat bertahan, maka ia pemenangnya. Bukan aku namanya kalo belum mengeluh, demi menjadi terkuat aku sesekali mengalah dengan memberikan waktu lebih dalam bekerja, ku pikir gapapa lah sedikit berambisi. Berjalannya waktu sayangnya aku malah ambruk sebelum berhasil jadi pemenang. Pola pertahananku mulai roboh. Setiap hari aku mendongeng kepada ibu, meyakinkan dengan 1001 alasan kenapa aku harus resign dan bukan ibu juga kalo tidak menjawab "yaudah, gapapa". Aku lega, tapi belum tenang.
Siang itu aku datang ke kantor lebih awal, bercengkrama dengan teman-teman lainnya lalu tidak sengaja bertatap muka dengan atasanku yang sedang lewat. Ia datang ke meja kerjaku sambil membawa laptop, habis meeting sepertinya. Ia berkata "ternyata kamu pinter juga ya". Aku diam, karna aku tau tentu saja itu bukan lah aku. Sejak kapan aku pintar? Beliau berceloteh lagi tentang hal yang masih tidak bisa aku percaya bahwa saat ini aku sedang diberi pujian. Aku mengucap terima kasih meskipun saat itu aku masih tidak percaya diri dengan isi otak ku dan juga kemampuanku.
Singkat cerita tidak lama setelah itu, aku dapat email untuk melakukan wawancara untuk posisi baru di kantor. Aku cukup kaget dan takut kecewa, jujur aku takut gagal, padahal apa salahnya sih kalo gagal? Lagi dan lagi, aku diwawancara dan diintrogasi tentang kemampuan diri. Aku banyak doa, meski pun tidak lebih banyak dari doa Ibu, tapi aku tetap berusaha memberikan presentasi yang terbaik.
Selang dua minggu, ada email masuk dan isinya adalah aku berhasil pindah lagi untuk yang ke-7 kalinya! Teman-teman mengucapkan selamat, aku pun berterima kasih dengan mereka semua yang sudah ikut mendoakan. Pelukan selamat aku terima dengan rasa masih tidak percaya. Satu hal yang ingin sekali aku lakukan setelah mendapatkan kabar itu adalah aku ingin segera menelpon Ibu, karena waktu itu aku masih di kantor jadi aku urungkan niatku dan memutuskan untuk menelponnya saat sudah di tempat kost. Telepon berdering, aku memberi taunya mengenai kabar baik ini dan seperti biasa kami yang memang tipikal gampang nangis ini saling berlomba mengucap syukur dan haru.
Hampir empat bulan berlalu aku menjalani perkerjaan yang baru. Baru saja tadi sore aku mengobrol lagi dengan atasanku, evaluasi bulanan yang rutin dijalankan di divisiku. Beliau menanyaiku dengan kesan dan pesan selama aku bergabung pada team ini, tentu aku mengucapkan banyak terima kasih, aku bilang ia seperti telah memberi nyawa baru untuk aku, lalu katanya "kamu tau kenapa kamu diberi banyak nyawa?". Aku terdiam, karena benar-benar tidak apa jawaban dari pertanyaan beliau tadi, lalu katanya "...karena berkat doa-doa orang baik. Bersyukurlah".







