DOA SANG PENJUAL SOAL LATIHAN-Story of me (Part 1)


Rintiknya jogja selalu menggugah selera untuk membuatku semakin jatuh cinta kepadanya. Tepat hari ini sudah 3 tahun aku melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di kota istimewa ini. Mungkin cerita ini tidak ku ceritakan secara lengkap, aku hanya akan bercerita secara garis besar bagaimana langkah kehidupanku dari lulus SMA sampai di masa perkuliahan. Bukan karna pelit tetapi karna aku mungkin lupa hal apa saja  yang sudah ku alami selama ini.

Semuanya memang tidak mudah, aku yakin seluruh manusia di dunia ini pasti tidak akan setuju jika aku mengatakan hidup itu mudah. Aku pun, manusia yang akan lantang mengatakan bahwa hidup ini TIDAK MUDAH. Memang begitu hidup, kamu tidak sendiri jika merasa hidup ini sulit, semuanya pun begitu. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing, tidak usah khawatir apa yang kamu dapat itu sesuai dengan apa yang kamu sanggupi, tidak akan terlampaui dan  tidak akan melebihi.

Mungkin jika kamu tidak tau bahwa aku adalah siswa yang cukup aneh di sekolah. Dulu, sejak awal masuk sekolah dasar aku tidak memiliki banyak prestasi, hampir tidak ada malah. Aku memang bukan dari bibit unggulan, saat SD aku jarang masuk ke peringkat sepuluh besar di kelas, salah satu prestasi yang paling aku ingat adalah saat pertama kali aku menjadi peringkat ke-10 di bangku kelas 4. Aku memang tidak pernah belajar, alasannya lucu yaitu karna aku tidak menemukan suatu keharusan mengapa aku harus belajar. Bodoh kan? HAHAHA

Pola pikir seperti itu lah yang sudah terekam dalam otak ku sejak kecil terkadang kebiasaan itu masih terbawa sampai sekarang. Aku hanya melakukan hal-hal yang aku sukai saja, jadi tidak heran jika dilihat dari nilai ku, ada beberapa nilai yang sangat menonjol dan ada beberapa nilai yang sama sekali tidak tampak. Untungnya hal itu sudah lumayan agak berubah ketika aku SMP dan SMA, aku mulai belajar karna waktu itu gurunya adalah om ku sendiri, jadi setiap hari aku selalu dipaksa oleh ibu untuk belajar di rumahnya. Jadi dulu intinya aku terpaksa belajar karena guruku adalah om ku. Saat SMP aku mulai masuk ke peringkat 10 besar, hingga SMA beruntungnya aku masih juga dalam circle peringkat itu. Bukan suatu kebanggan memang, karna dalam hidupku aku belum pernah memuncaki peringkat satu di sekolah.

Oh ya balik lagi dengan masa awal kelulusan SMA, aku akan bercerita bagaimana aku bisa memilih kuliah di sini. Berawal dari kegagalanku yang terus menerus untuk menaklukan teknik kimia dari jalur undangan sampai jalur ujian. Dari seluruh mata pelajaran di sekolah, kimia lah yang paling aku suka. Aku adalah siswa  yang akan tidur ketika pelajaran bahasa inggris, dan bangun ketika pelajaran kimia atau siswa yang tidak akan belajar ketika ulangan PPKN tetapi mau berjuang mati matian untuk menyelesaikan tugas pelajaran kimia. Intinya begitu.

Pendaftaran jalur undangan dimulai, aku mendaftar di salah satu universitas di semarang. Aku yakin dan optimis, tentu saja karna kimia ini adalah hal yang aku bisa dan aku sukai. Sebegitu optimisnya aku sampai aku lupa, bahwa tidak ada perkiraan manusia yang pasti di dunia ini. Sebaik baiknya rencana adalah rencana dari sang Maha Kuasa. Pengumuman SNMPTN tiba, aku gagal. Kecewa sudah pasti, marah ya ada, tetapi mau bagaimana lagi rencana Tuhan begitu baik, aku hanya bisa berusaha. Jika  gagal mungkin Tuhan membukakan jalan di jalur yang lain, tetapi tentu saja pada prakteknya tidak semudah itu. Aku terus menerus menyalahkan kegagalan ini, hingga pada suatu titik aku tidak percaya dengan nasib baik dan takdir, bodohnya lagi aku percaya bahwa aku tidak ditakdirkan untuk bahagia, bodoh memang tapi aku benar-benar pernah seterpuruk itu. Berhari-hari aku tidak bisa lepas dari rasa amarahku, tapi bingung mau marah ke siapa dan pada akhirnya ya lagi-lagi selalu menyalahkan diri sendiri. Larinya sama aja, mau digimana pun juga tetap saja aku sudah gagal.

Setelah SNMPTN memudar, aku memutuskan untuk memulai lagi. entah memulai dengan semangat apa lagi tetapi aku harus terus mencoba. Pendaftaran SBMPTN sudah terbuka lebar, karna persiapan yang mepet dan kurangnya belajar aku tidak yakin dengan ujian yang akan ku jalani mendatang. Aku memilih jurusan yang sama, ibaratnya aku sudah terjatuh di sungai itu tetapi ku coba berenang untuk mengejar perahunya. Hanya keberuntungan yang dapat menolongku. Jujur, pada saat itu aku tidak mengerti lagi harus ku langkahkan kemana kaki ini, seolah jalan demi jalan yang ku telusuri samar-samar. Ujung jalan tersebut tidak dapat aku lihat, menapaki setapak demi setapak, mencoba meyakinkan diri di depan sana ada titik temu tetapi jalanku buntu. Aku gagal lagi. GAGAL LAGIIII.

Ketika aku tau aku gagal, hal yang paling berat adalah memberitahu orang lain bahwa kita gagal. Takut mengecewakan, takut mereka sakit hati, takut mereka khawatir. Untungnya aku memiliki orang yang sangat kuat, sangat percaya bahwa aku bisa meskipun diriku sendiri malah ragu. Ibuku, orang yang selalu mengatakan “lakukan apapun yang kamu sukai, asal tidak keluar dari ajaran islam dan tidak merugikan orang lain. Lakukan lah, temukan jalanmu sendiri”. Intinya aku hanya perlu menemukan jalanku sendiri, intinya aku hanya perlu mencoba lagi. Hanya itu, tetapi tidak segampang itu. Hanya aku yang dapat merubah jalan ku sendiri.

Hari itu aku berdoa dari pagi sampai sore, mencoba meleburkan segala amarah terhadap diri sendiri dan mencoba untuk berhati ikhlas, percaya bahwa perjuangan ini belum berakhir. Aku tanamkan pada diriku agar apapun hasilnya aku harus tetap kuliah. Aku harus kuliah. Apapun yang terjadi, aku harus kuliah.

Tinggal ujian mandiri satu-satunya harapanku, kesempatan terakhir agar aku bisa kuliah. Aku mulai belajar lagi, menemukan semangatku yang baru. Meskipun dengan luka yang baru, aku harus belajar berdiri lagi bukan? Ini lah titik terendah dalam hidupku, ketika aku mulai meragukan kemampuan diri sendiri. Masih teringat dengan jelas tangisanku saat sehabis sholat ied waktu itu, pasti orang-orang di makam itu kaget melihat ku menangis sebegitu kencangnya, pasti mereka mengira ini pertama kali aku menemui bapak di sini. Padahal tiap taun aku menemuinya di situ.

Kegalauanku bertambah lagi dalam menentukan universitas untuk ujian mandiri yang cukup sulit bagiku, akhirnya aku berusaha untuk membuka mata. Mungkin jurusan ini bukan takdirku, aku pun mencari jalan lain. Percaya saja sama Allah, kalo sudah jalannya pasti dimudahkan kalo bukan jalannya pasti dibimbing ke jalan yang seharusnya, dan mungkin kimia adalah bukan jalanku. Belajar ikhlas memang yang paling sulit, tetapi tujuan awalku adalah untuk kuliah, siapa tau malah aku akan lebih jatuh cinta pada jurusan ku yang baru, pikirku begitu.

Pada awalnya aku sama sekali tidak kepikiran untuk mendaftar di UGM, karna ya tadi ibaratnya kucing aja gak bisa aku taklukan, apalagi naga. Penutupan pendaftaran tinggal 3 hari lagi ditutup, ibuku menyarankan untuk mendaftar di sana. Mungkin Tuhan menunjukan jalanku melalui ibu, akhirnya aku pun memilih jurusan penginderaan jauh dan sistem informasi geografi UGM, hal yang benar-benar baru untukku. Pemilihan ini atas beberapa pertimbangan, salah satunya adalah atas rekomendasi dari salah guru di sekolahku dan juga karna akreditasinya sudah A dan setelah aku cari tau tentang jurusan tersebut aku pun mulai tertarik. Kalo ada yang belum tau penginderaan jauh itu apa bisa klik di sini http://sv.ugm.ac.id/akademik/program-studi/program-studi-ipa/d3-penginderaan-jauh-dan-sig/ .

Aku berangkat ke jogja hanya dengan modal bismillah dan nekat, kota istimewa yang sebelumnya belum pernah sama sekali aku datangi. Saat itu pikiranku masih campur aduk mikirin nanti besok gimana, mikirin ujianya gimana, mikirin yang di sana gimana, tetapi aku teguh intinya aku hanya ingin kuliah! Untuk masalah penginapan, untung saja berkat kedekatanku dengan salah satu guru ia menyarankan untuk menginap di tempat anaknya yang berkuliah di sana. Menurutku ini adalah salah satu bukti bahwa, kalo Allah sudah berkehendak, semesta pun akan takluk untuk mengikutinya. Sungguh Allah Maha Baik.

Salah satu kebaikan Allah lainya adalah ternyata ada salah satu temanku juga yang sedang di jogja. Sayangnya ia laki-laki jadi aku tidak bisa menginap di tempatnya, ia hanya menjemputku dan mengantarkan ku ke tempat kos, sumpah dia teman terbaik sepanjang masa. Ia juga sedang mempersiapkan ujian, tetapi bukan di UGM, dia mempersiapkan untuk masuk ke salah satu kedinasan di jogja (alhamdulilah dia juga ketrima, ditahun yang berbeda). Sore sebelum ujian aku diantar untuk melihat ruangan ujian, untuk memastikan nama ku ada di papan daftar peserta yang ada. Di depan gedung aku bertemu dengan seorang penjual  soal latian ujian, seorang wanita cukup muda menawarkan ku untuk membeli jualannya. Awalnya aku tidak berniat membeli, karna pikirku aku sudah cukup banyak memiliki soal-soal latian, tetapi waktu itu sembari menunggu temanku yang sedang mengambil motor di tempat parkir, apa salahnya iseng mengajak penjual tersebut mengobrol.

“berapa mba?”
“30 ribu aja”
Kok mahal ya, pikir ku. wkwkw
“gak bisa kurang mba?”
“25 ribu deh”
“15 ribu aja ya?”
“yaudah deh mba, udah mau magrib juga”
“oke, makasih mba”
“makasih juga mba, saya doakan semoga ketrima di UGM

Keesokan harinya waktu ujian pun datang, ini pertama kalinya saat ujian aku merasa bisa HAHAHA karna sebelumnya setiap kali pulang ujian dan ditanyai ibu,  aku selalu mengeluhkan soal ujian yang selalu tidak bisa aku kerjaan juga. Setelah selesai ujian, malamnya aku langsung pulang ke rumah, karna lusanya aku harus ujian juga di purwokerto. Hari demi hari aku habiskan untuk menulis sembari menunggu pengumuman. Akhirnya hari itu pun tiba, pengumumannya waktu itu pagi kalo gak salah, tetapi aku tidak berani untuk membuka hasilnya, seperti biasa aku takut gagal lagi. tetapi ya sudah lah toh kalo gagal pun aku masih ada cadangan ujian mandiriku yang di purwokerto kemarin.

“DEBY MUSTIKA SARI DITERIMA
JURUSAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI”

Kalian tau setelah itu  tau apa yang pertama kali aku lakukan?
Aku terdiam, rasanya pengen nangis tapi gak bisa keluar air mata sama sekali, saking shocknya, saking senengnya. Aku reload lagi web itu sampai berulang-ulang, memastikan bahwa apa yang aku lihat tadi benar. Aku takut tiba-tiba namaku berubah jadi merah di sana, tetapi untungnya tidak. AKU BENAR-BENAR DITERIMA. Masih lemes, gak nyangka, terharu, akhirnya Tuhan membukaan kesempatan untukku. Tiba-tiba ibu masuk ke kamar ku, langsung aku hampiri beliau, tumpah semua tangisku dipelukan ibu. Wanita yang tidak pernah mengatakan ‘tidak’ untuk ku, yang selalu percaya bahwa aku bisa, yang sudah membukakan jalan untukku melalui setiap untaian doa-doanya.

“gimana deb? Gak ketrima lagi ya?” muka ibu udah merah mau ikutan nangis juga. Kebiasaan ibu dan anak sama aja, liat orang nangis pasti ikutan pengen nangis hahaha.
“deby ketrima bu”
“hah? Ketrima? ALHAMDULILLAH”
“iya, deby ketrima!” tangis bahagia bercampur di sana.
“bersyukur, sana sholat dzuhur”
“gakbisa”
“heh kok gitu?!! Bersyukur sama Allah!”
“iya gak bisa, deby udah sholat tadi” pengen ketawa kalo inget ini

Ada satu hal lagi yang aku ingat saat itu, ucapan penjual soal latian ujian kemarin. “saya doakan semoga ketrima di UGM”. Cuman kalimat sesimple itu, anehnya hanya kata itu yang aku ingat terus. Mungkin berkat doa dari mbak itu juga aku bisa diterima, doa-doa tersebut mengalir mengantarkan ku untuk berkuliah di sini. Jangan menyepelekan doa, siapa tahu Allah mengamininya. Terimakasih mbak, sungguh terimakasih.
Tapi dibalik kebahagiaan ini, ada aja orang-orang yang masih menilai dari sudut lain, aku  pernah mendengar komentar-komentar ini jelas langsung di telingaku sendiri. Orang yang aku kira selama ini mendukung ku pun pernah mengatakanya juga, yang paling menyakitkan adalah bukan mendengar komentar dari orang lain tetapi dari orang yang mengerti kita, mengenal kita dan tau siapa kita namun ia masih menganggap kita sebagai orang lain.

“lah emang dia pinter? Bejo amat ketrima di UGM”
“deby kertima di UGM? Pasti jurusanya yang jelek”
“oalah pantes jurusanya gitu sih, gak terkenal”
“lah paling nanti gak akan kuat di sana”
“gak akan betah paling tuh, kan dia basic nya IPA”
“mau jadi apa orang geografi?!”

Percaya atau tidak dari awal sampe detik ini aku sangat menikmati apa yang aku ambil di sini. Sepertinya aku tidak perlu membuktikan kepada kalian semua bahwa aku senang di sini, aku sudah membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku memang mencintai apa yang sudah terjadi dengan ku sekarang, dengan apa yang sudah digariskan Tuhan untukku. Ikhlas adalah caraku untuk bersyukur.



See you in part two!!
Nanti lagi ya, belum selesai yang part dua. Lagi susah mencari waktu dan inspirasi huhu


This picture is full of hapiness and greatfull, im so blessed ❤


0 Comments