Aku senang melihat mu tersenyum lega, membawa ijazah yang kau perjuangkan selama beberapa tahun terakhir ini. Garis wajah mu tidak benar-benar aku hafal karna jujur aku tidak berani melihat mu secara lekat-lekat. Mungkin kamu tau apa arti tatapan ku tadi, aku terlalu gugup hingga tidak tau harus berkata apa selain ucapan selamat, dan kamu tetap sama, masih dengan sikap mu yang dingin dengan hanya menanyakan pertanyaan formal, tetapi walau begitu aku tetap senang setidaknya dihari yang membahagiakan ini aku hadir untuk melihat senyuman mu.
Ini kali pertama aku membelikan sesuatu dengan penuh pertimbangan dan hati-hati. Hadiah untuk kelulusanmu hari ini yang sebenarnya tidak pernah terlintas dipikiran ku untuk memberikannya tetapi aku mulai ragu, aku ingin memberikan sesuatu sebagai tanda hadiah atas pencapaian yang telah kamu capai.
Aku pulang dari segala urusanku yang sejak pagi tadi telah disibukkan dengan berbagai kegiatan. Setelah selesai, aku mengitari kota jogja dengan perasaan penuh bimbang, harus kah aku mencoba? atau haruskah aku diam agar harapan ini tidak tumbuh dan berkembang? kebimbangan ku sudah memuncak, ah begini saja aku pun akhirnya membuat pilihan.
Akhirnya hari itu pun ada, hari dimana bukan menjadi aku yang hanya menjadi pribadi yang terus berprasangka atas rasa yang tak ku tau arahnya kemana, tetapi hari ini aku mencoba memberikan sejumput kenangan yang mungkin setidaknya pernah ada diantara kita.
Dasi warna abu-abu menjadi pilihanku, entah menurutku dari semua macam orang yang memakai warna abu-abu kamu masih menjadi pemenang yang paling cocok dengan warna itu, pas sekali dengan kepribadian mu. Aku tidak berharap banyak, tapi setidaknya jika kamu memakainya nanti kamu akan ingat siapa pemberinya.
Aku masih canggung dengan bahasa tubuh mu, kamu terus melengkungkan senyuman dan aku terus menunduk ke bawah, kamu tau aku lemah dengan tatapanmu. Di waktu menuju senja itu, kamu berkata pelan dengan segala kecanggungan antara kita, kamu berpamitan. Iya, pamit. Pada akhir cerita yang diharapkan bahagia, pada moment itu yang ku harapkan bisa menjadi pembuka, kamu pamit untuk berkelana. Mungkin ini sebabnya mengapa hari ini aku punya nyali, Tuhan ingin memberiku kesempatan untuk berucap pergi. Aku rasa kamu pun paham dengan raut kecewa ku tadi.
Atas semua harapan yang hari ini berakhir sia-sia, kemana pun kaki mu menapak aku hanya ingin kamu berbahagia atas dirimu sendiri, aku ingin kamu lebih mencintai dirimu sendiri, karna aku manusia yang pengecut ini sudah melakukanya kepada mu.
0 Comments