Rintiknya jogja
selalu menggugah selera untuk membuatku semakin jatuh cinta kepadanya. Tepat
hari ini sudah 3 tahun aku melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi
di kota istimewa ini. Mungkin cerita ini tidak ku ceritakan secara lengkap, aku
hanya akan bercerita secara garis besar bagaimana langkah kehidupanku dari lulus
SMA sampai di masa perkuliahan. Bukan karna pelit tetapi karna aku mungkin lupa
hal apa saja yang sudah ku alami selama ini.
Semuanya memang
tidak mudah, aku yakin seluruh manusia di dunia ini pasti tidak akan setuju
jika aku mengatakan hidup itu mudah. Aku pun, manusia yang akan lantang mengatakan
bahwa hidup ini TIDAK MUDAH. Memang begitu hidup, kamu tidak sendiri jika
merasa hidup ini sulit, semuanya pun begitu. Setiap orang memiliki porsinya
masing-masing, tidak usah khawatir apa yang kamu dapat itu sesuai dengan apa
yang kamu sanggupi, tidak akan terlampaui dan tidak akan melebihi.
Mungkin jika
kamu tidak tau bahwa aku adalah siswa yang cukup aneh di sekolah. Dulu, sejak
awal masuk sekolah dasar aku tidak memiliki banyak prestasi, hampir tidak ada
malah. Aku memang bukan dari bibit unggulan, saat SD aku jarang masuk ke
peringkat sepuluh besar di kelas, salah satu prestasi yang paling aku ingat
adalah saat pertama kali aku menjadi peringkat ke-10 di bangku kelas 4. Aku
memang tidak pernah belajar, alasannya lucu yaitu karna aku tidak menemukan
suatu keharusan mengapa aku harus belajar. Bodoh kan? HAHAHA
Pola pikir
seperti itu lah yang sudah terekam dalam otak ku sejak kecil terkadang
kebiasaan itu masih terbawa sampai sekarang. Aku hanya melakukan hal-hal yang
aku sukai saja, jadi tidak heran jika dilihat dari nilai ku, ada beberapa nilai
yang sangat menonjol dan ada beberapa nilai yang sama sekali tidak tampak. Untungnya
hal itu sudah lumayan agak berubah ketika aku SMP dan SMA, aku mulai belajar
karna waktu itu gurunya adalah om ku sendiri, jadi setiap hari aku selalu
dipaksa oleh ibu untuk belajar di rumahnya. Jadi dulu intinya aku terpaksa
belajar karena guruku adalah om ku. Saat SMP aku mulai masuk ke peringkat 10
besar, hingga SMA beruntungnya aku masih juga dalam circle peringkat itu. Bukan
suatu kebanggan memang, karna dalam hidupku aku belum pernah memuncaki
peringkat satu di sekolah.
Oh ya balik
lagi dengan masa awal kelulusan SMA, aku akan bercerita bagaimana aku bisa
memilih kuliah di sini. Berawal dari kegagalanku yang terus menerus untuk menaklukan
teknik kimia dari jalur undangan sampai jalur ujian. Dari seluruh mata
pelajaran di sekolah, kimia lah yang paling aku suka. Aku adalah siswa yang akan tidur ketika pelajaran bahasa
inggris, dan bangun ketika pelajaran kimia atau siswa yang tidak akan belajar
ketika ulangan PPKN tetapi mau berjuang mati matian untuk menyelesaikan tugas
pelajaran kimia. Intinya begitu.
Pendaftaran
jalur undangan dimulai, aku mendaftar di salah satu universitas di semarang. Aku
yakin dan optimis, tentu saja karna kimia ini adalah hal yang aku bisa dan aku
sukai. Sebegitu optimisnya aku sampai aku lupa, bahwa tidak ada perkiraan
manusia yang pasti di dunia ini. Sebaik baiknya rencana adalah rencana dari
sang Maha Kuasa. Pengumuman SNMPTN tiba, aku gagal. Kecewa sudah pasti, marah
ya ada, tetapi mau bagaimana lagi rencana Tuhan begitu baik, aku hanya bisa
berusaha. Jika gagal mungkin Tuhan membukakan
jalan di jalur yang lain, tetapi tentu saja pada prakteknya tidak semudah itu.
Aku terus menerus menyalahkan kegagalan ini, hingga pada suatu titik aku tidak
percaya dengan nasib baik dan takdir, bodohnya lagi aku percaya bahwa aku tidak
ditakdirkan untuk bahagia, bodoh memang tapi aku benar-benar pernah seterpuruk
itu. Berhari-hari aku tidak bisa lepas dari rasa amarahku, tapi bingung mau
marah ke siapa dan pada akhirnya ya lagi-lagi selalu menyalahkan diri sendiri.
Larinya sama aja, mau digimana pun juga tetap saja aku sudah gagal.
Setelah
SNMPTN memudar, aku memutuskan untuk memulai lagi. entah memulai dengan
semangat apa lagi tetapi aku harus terus mencoba. Pendaftaran SBMPTN sudah
terbuka lebar, karna persiapan yang mepet dan kurangnya belajar aku tidak yakin
dengan ujian yang akan ku jalani mendatang. Aku memilih jurusan yang sama, ibaratnya
aku sudah terjatuh di sungai itu tetapi ku coba berenang untuk mengejar
perahunya. Hanya keberuntungan yang dapat menolongku. Jujur, pada saat itu aku
tidak mengerti lagi harus ku langkahkan kemana kaki ini, seolah jalan demi
jalan yang ku telusuri samar-samar. Ujung jalan tersebut tidak dapat aku lihat,
menapaki setapak demi setapak, mencoba meyakinkan diri di depan sana ada titik
temu tetapi jalanku buntu. Aku gagal lagi. GAGAL LAGIIII.
Ketika aku
tau aku gagal, hal yang paling berat adalah memberitahu orang lain bahwa kita
gagal. Takut mengecewakan, takut mereka sakit hati, takut mereka khawatir.
Untungnya aku memiliki orang yang sangat kuat, sangat percaya bahwa aku bisa
meskipun diriku sendiri malah ragu. Ibuku, orang yang selalu mengatakan
“lakukan apapun yang kamu sukai, asal tidak keluar dari ajaran islam dan tidak
merugikan orang lain. Lakukan lah, temukan jalanmu sendiri”. Intinya aku hanya
perlu menemukan jalanku sendiri, intinya aku hanya perlu mencoba lagi. Hanya
itu, tetapi tidak segampang itu. Hanya aku yang dapat merubah jalan ku sendiri.
Hari itu aku
berdoa dari pagi sampai sore, mencoba meleburkan segala amarah terhadap diri sendiri dan mencoba untuk berhati ikhlas, percaya bahwa perjuangan ini belum berakhir. Aku
tanamkan pada diriku agar apapun hasilnya aku harus tetap kuliah. Aku harus
kuliah. Apapun yang terjadi, aku harus kuliah.
Tinggal
ujian mandiri satu-satunya harapanku, kesempatan terakhir agar aku bisa kuliah.
Aku mulai belajar lagi, menemukan semangatku yang baru. Meskipun dengan luka
yang baru, aku harus belajar berdiri lagi bukan? Ini lah titik terendah dalam
hidupku, ketika aku mulai meragukan kemampuan diri sendiri. Masih teringat
dengan jelas tangisanku saat sehabis sholat ied waktu itu, pasti orang-orang di
makam itu kaget melihat ku menangis sebegitu kencangnya, pasti mereka mengira ini
pertama kali aku menemui bapak di sini. Padahal tiap taun aku menemuinya di situ.
Kegalauanku
bertambah lagi dalam menentukan universitas untuk ujian mandiri yang cukup
sulit bagiku, akhirnya aku berusaha untuk membuka mata. Mungkin jurusan ini
bukan takdirku, aku pun mencari jalan lain. Percaya saja sama Allah, kalo sudah
jalannya pasti dimudahkan kalo bukan jalannya pasti dibimbing ke jalan yang
seharusnya, dan mungkin kimia adalah bukan jalanku. Belajar ikhlas memang yang
paling sulit, tetapi tujuan awalku adalah untuk kuliah, siapa tau malah aku
akan lebih jatuh cinta pada jurusan ku yang baru, pikirku begitu.
Pada awalnya
aku sama sekali tidak kepikiran untuk mendaftar di UGM, karna ya tadi ibaratnya
kucing aja gak bisa aku taklukan, apalagi naga. Penutupan pendaftaran tinggal 3
hari lagi ditutup, ibuku menyarankan untuk mendaftar di sana. Mungkin Tuhan
menunjukan jalanku melalui ibu, akhirnya aku pun memilih jurusan penginderaan
jauh dan sistem informasi geografi UGM, hal yang benar-benar baru untukku.
Pemilihan ini atas beberapa pertimbangan, salah satunya adalah atas rekomendasi
dari salah guru di sekolahku dan juga karna akreditasinya sudah A dan setelah
aku cari tau tentang jurusan tersebut aku pun mulai tertarik. Kalo ada yang
belum tau penginderaan jauh itu apa bisa klik di sini http://sv.ugm.ac.id/akademik/program-studi/program-studi-ipa/d3-penginderaan-jauh-dan-sig/ .
Aku
berangkat ke jogja hanya dengan modal bismillah dan nekat, kota istimewa yang
sebelumnya belum pernah sama sekali aku datangi. Saat itu pikiranku masih
campur aduk mikirin nanti besok gimana, mikirin ujianya gimana, mikirin yang di
sana gimana, tetapi aku teguh intinya aku hanya ingin kuliah! Untuk masalah
penginapan, untung saja berkat kedekatanku dengan salah satu guru ia
menyarankan untuk menginap di tempat anaknya yang berkuliah di sana. Menurutku
ini adalah salah satu bukti bahwa, kalo Allah sudah berkehendak, semesta pun
akan takluk untuk mengikutinya. Sungguh Allah Maha Baik.
Salah satu
kebaikan Allah lainya adalah ternyata ada salah satu temanku juga yang sedang
di jogja. Sayangnya ia laki-laki jadi aku tidak bisa menginap di tempatnya, ia
hanya menjemputku dan mengantarkan ku ke tempat kos, sumpah dia teman terbaik
sepanjang masa. Ia juga sedang mempersiapkan ujian, tetapi bukan di UGM, dia
mempersiapkan untuk masuk ke salah satu kedinasan di jogja (alhamdulilah dia
juga ketrima, ditahun yang berbeda). Sore sebelum ujian aku diantar untuk
melihat ruangan ujian, untuk memastikan nama ku ada di papan daftar peserta
yang ada. Di depan gedung aku bertemu dengan seorang penjual soal latian ujian, seorang wanita cukup muda
menawarkan ku untuk membeli jualannya. Awalnya aku tidak berniat membeli, karna
pikirku aku sudah cukup banyak memiliki soal-soal latian, tetapi waktu itu
sembari menunggu temanku yang sedang mengambil motor di tempat parkir, apa
salahnya iseng mengajak penjual tersebut mengobrol.
“berapa
mba?”
“30 ribu
aja”
Kok mahal
ya, pikir ku. wkwkw
“gak bisa
kurang mba?”
“25 ribu
deh”
“15 ribu aja
ya?”
“yaudah deh
mba, udah mau magrib juga”
“oke,
makasih mba”
“makasih
juga mba, saya doakan semoga ketrima di
UGM”
Keesokan
harinya waktu ujian pun datang, ini pertama kalinya saat ujian aku merasa bisa
HAHAHA karna sebelumnya setiap kali pulang ujian dan ditanyai ibu, aku selalu mengeluhkan soal ujian yang selalu
tidak bisa aku kerjaan juga. Setelah selesai ujian, malamnya aku langsung
pulang ke rumah, karna lusanya aku harus ujian juga di purwokerto. Hari demi
hari aku habiskan untuk menulis sembari menunggu pengumuman. Akhirnya hari itu
pun tiba, pengumumannya waktu itu pagi kalo gak salah, tetapi aku tidak berani
untuk membuka hasilnya, seperti biasa aku takut gagal lagi. tetapi ya sudah lah
toh kalo gagal pun aku masih ada cadangan ujian mandiriku yang di purwokerto
kemarin.
“DEBY MUSTIKA SARI DITERIMA
JURUSAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM
INFORMASI GEOGRAFI”
Kalian tau
setelah itu tau apa yang pertama kali
aku lakukan?
Aku terdiam,
rasanya pengen nangis tapi gak bisa keluar air mata sama sekali, saking
shocknya, saking senengnya. Aku reload lagi web itu sampai berulang-ulang,
memastikan bahwa apa yang aku lihat tadi benar. Aku takut tiba-tiba namaku
berubah jadi merah di sana, tetapi untungnya tidak. AKU BENAR-BENAR DITERIMA. Masih
lemes, gak nyangka, terharu, akhirnya Tuhan membukaan kesempatan untukku. Tiba-tiba
ibu masuk ke kamar ku, langsung aku hampiri beliau, tumpah semua tangisku dipelukan
ibu. Wanita yang tidak pernah mengatakan ‘tidak’ untuk ku, yang selalu percaya
bahwa aku bisa, yang sudah membukakan jalan untukku melalui setiap untaian doa-doanya.
“gimana deb?
Gak ketrima lagi ya?” muka ibu udah merah mau ikutan nangis juga. Kebiasaan ibu
dan anak sama aja, liat orang nangis pasti ikutan pengen nangis hahaha.
“deby
ketrima bu”
“hah?
Ketrima? ALHAMDULILLAH”
“iya, deby
ketrima!” tangis bahagia bercampur di sana.
“bersyukur,
sana sholat dzuhur”
“gakbisa”
“heh kok
gitu?!! Bersyukur sama Allah!”
“iya gak
bisa, deby udah sholat tadi” pengen ketawa kalo inget ini
Ada satu hal
lagi yang aku ingat saat itu, ucapan penjual soal latian ujian kemarin. “saya
doakan semoga ketrima di UGM”. Cuman kalimat sesimple itu, anehnya hanya kata
itu yang aku ingat terus. Mungkin berkat doa dari mbak itu juga aku bisa
diterima, doa-doa tersebut mengalir mengantarkan ku untuk berkuliah di sini. Jangan
menyepelekan doa, siapa tahu Allah mengamininya. Terimakasih mbak, sungguh
terimakasih.
Tapi dibalik
kebahagiaan ini, ada aja orang-orang yang masih menilai dari sudut lain,
aku pernah mendengar komentar-komentar
ini jelas langsung di telingaku sendiri. Orang yang aku kira selama ini
mendukung ku pun pernah mengatakanya juga, yang paling menyakitkan adalah bukan
mendengar komentar dari orang lain tetapi dari orang yang mengerti kita,
mengenal kita dan tau siapa kita namun ia masih menganggap kita sebagai orang
lain.
“lah emang
dia pinter? Bejo amat ketrima di UGM”
“deby
kertima di UGM? Pasti jurusanya yang jelek”
“oalah
pantes jurusanya gitu sih, gak terkenal”
“lah paling
nanti gak akan kuat di sana”
“gak akan
betah paling tuh, kan dia basic nya IPA”
“mau jadi
apa orang geografi?!”
Percaya atau
tidak dari awal sampe detik ini aku sangat menikmati apa yang aku ambil di
sini. Sepertinya aku tidak perlu membuktikan kepada kalian semua bahwa aku
senang di sini, aku sudah membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku memang
mencintai apa yang sudah terjadi dengan ku sekarang, dengan apa yang sudah
digariskan Tuhan untukku. Ikhlas adalah caraku untuk bersyukur.
See you in
part two!!
Nanti lagi
ya, belum selesai yang part dua. Lagi susah mencari waktu dan inspirasi huhu
This picture is full of hapiness and greatfull, im so blessed ❤

