questions
Desember, begitu banyak yang ingin ku sampaikan hingga kata-kata tak lagi tercukupi, lalu akhirnya menggiring gerimis kecil di pipiku. Rasanya begitu banyak hal yang telah dilewati, namun jika melihat ke depan rasanya beribu-ribu jauh lebih menakutkan dari pada sekarang, masa depan jauh menakutkan. 

Hidup itu singkat, aku tahu itu. Sebagai manusia normal, aku berhak untuk mengeluh, namun sepertinya keluh kesahku masih terlalu dini untuk ku luapkan, melihat begitu banyak pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang-orang disekelilingku. Aku merasa aku hanyalah seonggok daging yang hanya kecewa karena tidak diperhatikan oleh pemiliknya.

Dulu rasanya begitu banyak hal yang mudah untuk dilakukan, melihat dari sudut pandangku yang tentunya masih sangat berbeda dari aku yang sekarang. Sekarang aku lebih banyak khawatir, bahkan untuk bertahanpun seorang manusia perlu berusaha mati-matian agar tetap hidup. Mencari berbagai kebahagiaan dan perhormatan atas dirinya sendiri maupun  dimata orang lain.

Hidup selama 20tahun ini, Entah berapa banyak rasa syukur yang seharusnya aku ucapkan, namun alih-alih bersyukur aku malah lebih sering memilih untuk mengeluh, dan selalu merasa bahwa aku adalah makhluk paling mengenaskan. Rasanya aku belum pantas untuk mengeluh, sama sekali tidak pantas. 

Setiap hari dipagi yang masih biru tua, ada seorang wanita paruh baya yang rela bangun lebih dulu, dia rela tidur lebih singkat, dan rela makan lebih sedikit, serta rela untuk apapun demi aku. Terkadang ia marah terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa membantuku, ia juga sering kecewa terhadap takdirnya  karena merasa bersalah kepadaku, selain diriku ada manusia lain yang lebih menyalahkan takdirnya sendiri. Ia marah, karna tidak bisa memberikanku nasib yang lebih baik.

 Aku, seorang anak yang seharusnya lebih pandai untuk mengucap syukur. Seorang anak yang sejatinya selalu menjadi murid untuk ibunya, ibuku adalah guru hidup terbaik. Seharusnya lain kali pada hari Ibu aku bisa membelikannya sesuatu, entah baju, kain ataupun mie ayam sekalipun tak apa, yang penting sebuah penghargaan karena ia telah ada, bukan karena telah melahirkanku tetapi bersyukur karna ia telah lahir menjadi ibuku. Ia sungguh layak mendapatkan penghargaan itu.


PS: tulisan setahun yang lalu, kenapa ya tulisan sangat sulit untuk diungkapkan langsung haha semoga suatu saat nanti ibu bisa baca. Selamat ibu, sudah menjadi ibu terbaik, sekaligus orangtua terbaik.

Semakin bertambahnya umur, akan semakin menyempit ruang circle of friends di kehidupan kita. Teman untuk cerita, teman untuk bertukar pikiran atau teman untuk mengemukakan pendapat semakin sedikit dan malah semakin merucut ke orang itu-itu saja, iya gak sih?

Parahnya ada kalanya saya merasa bahwa teman terbaik untuk bertukar cerita adalah pikiran kita sendiri. Sebetulnya, bukan mencoba menutup diri sih, tapi untuk menceritakan mengenai sesuatu ke orang lain itu butuh effort yang lebih. Bergelut dengan pikiran sendiri itu pun, bukan hal yang gampang, karna terkadang bukanya menemukan solusi malah jadinya depressi (ini lebay sih). Tapi intinya, akan ada suatu masa kita membutuhkan orang lain, sekalipun itu hanya untuk bertukar cerita.

Perubahan yang saya alami ini, saya rasakan sekali ketika masuk di dunia perkuliahan. Ketika kami semua seolah sedang dalam sebuah arena pertandingan, yang membuat kami terfokus dengan peran dan goals masing-masing dan akhirnya kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Pernah gak kalian merasa sefrekuensi dengan orang, lalu di suatu waktu ketika kalian bertemu malah merasa bahwa kalian tidak memiliki kesamaan itu lagi? Atau gampangnya aja deh. Pernah gak kalian berteman baik dengan seseorang terus di suatu masa tiba-tiba kalian seperti tidak mengenal lagi orang tersebut?

Kalo pernah..
Lalu pertanyaannya apakah kalo begitu frekuensi dalam pertemanan bisa berubah?

Jawabannya adalah bisa.

Ketika masa berubah, lingkungan kita berubah, orang-orang disekitar kita berubah maka lambat taun kita juga akan ikut berubah. Sebetulnya ini adalah proses alami manusia yang memang akan melalui terms ini, jadi perubahan ini pasti ada di masing-masing individu.

Pribadi dan pola pikir manusia berkembang dari waktu ke waktu, dalam hal ini lingkungan pastinya berpengaruh besar dalam membentuk pola pikir manusia itu sendiri, in the other case lingkungan masing-masing kita kan berbeda, jadi bisa katakan pembentukan pola pikir kita pun akan berbeda tergantung dengan situasi dan kondisi lingkungan orang tersebut.

Perbedaan pola pikir ini lah yang membuat adanya suatu perbedaan sudut pandang, yang seolah-olah hal itu menggiring kita untuk menganggap bahwa kita memiliki frekuensi yang berbeda dengan orang tersebut dan merasa bahwa sudut pandang kita yang paling benar.

Dalam suatu perbedaan pendapat dan sudut pandang sebetulnya tidak penting siapa yang paling benar ataupun yang tidak benar, karna sekali lagi suatu hal bisa dilihat dari beberapa sudut pandang tergantung kita mau mengambil sudut yang mana. Kalo bisa berbagi pendapat, kenapa harus beradu pendapat?

Saya memiliki teman yang sangat senang sekali berdiskusi, ada kalanya kami mempunyai sudut pandang yang berbeda, tetapi dari hal itu malah membuat saya membuka pikiran bahwa di setiap permasalahan ataupun topik kita jangan hanya serta merta melihat dari satu sudut pandang saja. Bisa jadi ada sudut lain yang bisa membuat kita berpikir lebih rasional. Banyak hal yang bisa kita lihat, dari dia saya belajar mencoba untuk menghargai pendapat orang lain.

Buka lah mata kita untuk melihat hal-hal yang sudah ditinggalkan, apakah ada hal lain lagi yang perlu untuk diselamatkan?
Hallo, teman tulisan.


    Kiranya aku bisa mengenalimu dengan benar, memahami maksud dari  alasan dibalik fase yang kau sebut ‘istirahat’. Duka apa yang bisa kau bagi bersamaku, jika sekiranya dapat meringankan penat di kepalamu maka aku siap membantu. Jangan begini, meninggalkan orang lain bertanya lebih “kau kenapa?”

    Kita tentu sama-sama memiliki cela. Bedanya, aku orang yang mudah untuk dibaca. Hanya dengan sedikit berbicara, aku rasa kamu bisa mengenalku dengan banyak. Entah jurus atau mantra apa yang kamu pelajari untuk pandai dalam membaca hati. Tetapi semua itu, aku syukuri setidaknya tak usah aku bersusah payah untuk bercerita.

    Sekarang giliranmu, luapkan saja resah dan kegundahan mu padaku, aku pun penasaran pada hati yang kau sembunyikan. Tidak, aku harap kamu tidak salah paham, aku hanya ingin mempersilahkan untuk kecewamu pergi. Mungkin kau sedikit tidak percaya, tapi mungkin dalam hal ini bisa membuat mu lebih lega.

    Jika sekarang kamu sedang mencari arti kata 'tenang', maka semoga apapun alasan dibalik semua itu, aku harap tidak ada lagi hati yang tak kau buka, tak ada luka yang kau biarkan menganga. 

    Aku doakan semoga kau masih memiliki tenaga, untuk sekiranya bersabar lebih lama. Selamat berkelana, jangan lupakan hati yang tetap butuh tempat untuk berhenti.


Newer Posts Older Posts Home

Kamu adalah pembaca ke -

Beberapa tulisan lain

  • ►  2022 (3)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
  • ►  2021 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Aug (2)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Mar (2)
    • ►  Jan (1)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (3)
  • ▼  2019 (6)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jul (1)
    • ►  Mar (1)
    • ▼  Feb (3)
      • 20th of me
      • Apakah frekuensi bisa berubah?
      • Teman Tulisan
  • ►  2018 (5)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (2)
  • ►  2017 (9)
    • ►  Dec (1)
    • ►  Nov (1)
    • ►  Oct (1)
    • ►  Sep (1)
    • ►  Aug (1)
    • ►  Jun (1)
    • ►  May (1)
    • ►  Apr (1)
    • ►  Feb (1)
  • ►  2016 (9)
    • ►  Dec (2)
    • ►  Sep (2)
    • ►  May (1)
    • ►  Jan (4)

Berdasarkan Kategori

  • Another 4
  • HeadAndHeart 16
  • Journaling Challenge 7
  • Opinion 2
  • Poem 3
  • Random 2
  • Rantau 5
  • Story Of Me 3

POPULAR POSTS

  • DOA SANG PENJUAL SOAL LATIHAN-Story of me (Part 1)
  • The Book of 2019
  • Sabit ke Purnama
Powered by Blogger.

Debymustikas

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates