Apakah frekuensi bisa berubah?


Semakin bertambahnya umur, akan semakin menyempit ruang circle of friends di kehidupan kita. Teman untuk cerita, teman untuk bertukar pikiran atau teman untuk mengemukakan pendapat semakin sedikit dan malah semakin merucut ke orang itu-itu saja, iya gak sih?

Parahnya ada kalanya saya merasa bahwa teman terbaik untuk bertukar cerita adalah pikiran kita sendiri. Sebetulnya, bukan mencoba menutup diri sih, tapi untuk menceritakan mengenai sesuatu ke orang lain itu butuh effort yang lebih. Bergelut dengan pikiran sendiri itu pun, bukan hal yang gampang, karna terkadang bukanya menemukan solusi malah jadinya depressi (ini lebay sih). Tapi intinya, akan ada suatu masa kita membutuhkan orang lain, sekalipun itu hanya untuk bertukar cerita.

Perubahan yang saya alami ini, saya rasakan sekali ketika masuk di dunia perkuliahan. Ketika kami semua seolah sedang dalam sebuah arena pertandingan, yang membuat kami terfokus dengan peran dan goals masing-masing dan akhirnya kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Pernah gak kalian merasa sefrekuensi dengan orang, lalu di suatu waktu ketika kalian bertemu malah merasa bahwa kalian tidak memiliki kesamaan itu lagi? Atau gampangnya aja deh. Pernah gak kalian berteman baik dengan seseorang terus di suatu masa tiba-tiba kalian seperti tidak mengenal lagi orang tersebut?

Kalo pernah..
Lalu pertanyaannya apakah kalo begitu frekuensi dalam pertemanan bisa berubah?

Jawabannya adalah bisa.

Ketika masa berubah, lingkungan kita berubah, orang-orang disekitar kita berubah maka lambat taun kita juga akan ikut berubah. Sebetulnya ini adalah proses alami manusia yang memang akan melalui terms ini, jadi perubahan ini pasti ada di masing-masing individu.

Pribadi dan pola pikir manusia berkembang dari waktu ke waktu, dalam hal ini lingkungan pastinya berpengaruh besar dalam membentuk pola pikir manusia itu sendiri, in the other case lingkungan masing-masing kita kan berbeda, jadi bisa katakan pembentukan pola pikir kita pun akan berbeda tergantung dengan situasi dan kondisi lingkungan orang tersebut.

Perbedaan pola pikir ini lah yang membuat adanya suatu perbedaan sudut pandang, yang seolah-olah hal itu menggiring kita untuk menganggap bahwa kita memiliki frekuensi yang berbeda dengan orang tersebut dan merasa bahwa sudut pandang kita yang paling benar.

Dalam suatu perbedaan pendapat dan sudut pandang sebetulnya tidak penting siapa yang paling benar ataupun yang tidak benar, karna sekali lagi suatu hal bisa dilihat dari beberapa sudut pandang tergantung kita mau mengambil sudut yang mana. Kalo bisa berbagi pendapat, kenapa harus beradu pendapat?

Saya memiliki teman yang sangat senang sekali berdiskusi, ada kalanya kami mempunyai sudut pandang yang berbeda, tetapi dari hal itu malah membuat saya membuka pikiran bahwa di setiap permasalahan ataupun topik kita jangan hanya serta merta melihat dari satu sudut pandang saja. Bisa jadi ada sudut lain yang bisa membuat kita berpikir lebih rasional. Banyak hal yang bisa kita lihat, dari dia saya belajar mencoba untuk menghargai pendapat orang lain.

Buka lah mata kita untuk melihat hal-hal yang sudah ditinggalkan, apakah ada hal lain lagi yang perlu untuk diselamatkan?

0 Comments