Mau jadi apa tulisanku tanpa kamu?
Biarkan saja kamu jadi pemeran utamanya. Dengan ini mungkin
aku bisa lebih berusaha dalam menganalisa, hingga nanti aku jenuh dalam menerka
dan berprasangka. Lalu aku akan merindu lagi, dan akhirnya terluka kembali dan
lahirlah sebuah rasa kecewa. Mungkin maksud hati ini benar, bahwa aku hanya
ingin sedikit saja menjadi bagian dari salah satu alasan lengkung senyummu.
Tetapi siapa sangka bahwa semua rasa ini akan sia-sia, kamu terlalu semu hingga
warnamu tidak bisa kulihat dipelupuk mata.
Maaf jikala tulisan ini tidak akan pernah sampai ke tujuan
yang seharusnya, aku hanya wanita yang tidak pandai berkata. Mengungkapkan? Ah
Tidak! Rasanya prosa lebih mahir dalam meluapkan rasa cinta.
0 Comments