Wanita yang berprosa


        Menahan semua rindu menjadi sebuah tulisan. Doakan lah semoga rasa ini tidak pernah salah sasaran. Sesungguhnya aku sama sekali tidak mempunyai skill untuk melupakan. Tapi dengan adanya tulisan ini semoga semua bisa terluapkan. Ragamu, jiwamu dan rasamu tumbuh disetiap untaian kata, yang dipersatukan menjadi sebuah kalimat, dan akhirnya menjadi sebuah paragraf dengan penuh makna yang diiringi tanya.

Mau jadi apa tulisanku tanpa kamu?

Biarkan saja kamu jadi pemeran utamanya. Dengan ini mungkin aku bisa lebih berusaha dalam menganalisa, hingga nanti aku jenuh dalam menerka dan berprasangka. Lalu aku akan merindu lagi, dan akhirnya terluka kembali dan lahirlah sebuah rasa kecewa. Mungkin maksud hati ini benar, bahwa aku hanya ingin sedikit saja menjadi bagian dari salah satu alasan lengkung senyummu. Tetapi siapa sangka bahwa semua rasa ini akan sia-sia, kamu terlalu semu hingga warnamu tidak bisa kulihat dipelupuk mata.

Maaf jikala tulisan ini tidak akan pernah sampai ke tujuan yang seharusnya, aku hanya wanita yang tidak pandai berkata. Mengungkapkan? Ah Tidak! Rasanya prosa lebih mahir dalam meluapkan rasa cinta.

0 Comments