Aku bukan bang toyip, apalagi rapunsel


Kaligung pemalang-jogja
kerangkatan jam 05.26, 1 februari 2017

Aku sedang berjuang menyeka air mataku. Berniat mencoba memberanikan diri agar sedikit tegar, tapi apalah daya aku bukan bang toyip yang bisa mengatasi rindu, bagi ku rindu itu instan bisa dibuat dimana saja dan kapan saja, tapi aku juga bukan rapunsel yang bisa terus di dalam menara menunggu kuda terbang datang.

      Aku sang pemimpi bu, aku punya banyak mimpi dan mungkin salah satunya yang sekarang sedang aku perjuangkan. Jam 05.26 kaligung melaju dengan kecepatan tertentu yang tidak kuketahui berapa kecepatannya tapi aku yakin sekarang kereta ini sedang menciptakan jarak yang akan membuat ku rindu oleh kau, ibu.

     Terimakasih untuk nasi goreng buatan mu untuk ku sarapan jam 4 pagi tadi bu, baru 11 menit engkau berlalu tapi rasanya sekarang aku sudah terlalu rindu. Sebenarnya sengaja tadi aku mempersingkat pelukan itu, agar air mataku tidak cepat turun. Dan sebenarnya pula sangat sengaja tadi aku tidak berbalik memandang ke arahmu lagi dan melambaikan tangan, karna aku tau aku  terlalu lemah untk bernegosiasi dengan air mata.

      Kereta mulai berangkat, peluit sudah dibunyikan beberapa detik yang lalu tanda masinis harus menancapkan gasnya. entah sejak kapan ini terjadi tapi mungkin ini bukan kali yg pertama, aku melihat mu menunggu di teras stasiun hingga kereta ku berangkat, dengan raut muka yang tidak dapat ku artikan aku dengan cepat melambaikan tangan dan kau tersenyum. Senyuman tercantik pagi ini. Selamat pagi bu, doakan aku.

0 Comments