Cerita punya Bapak


Aku membencimu karna seberapa besar rinduku menumpuk kau tidak pernah datang untuk mengambilnya. Aku membencimu karna membuatku terlihat bodoh dengan semua pertanyaan yang aku ajukan setiap harinya  "apakah artinya aku untuk mu ayah?". Malam tidak jadi dingin, masih lebih dingin batu nisan yang ku pegang terakhir bulan fitri kemarin. Ayah baik2 saja? Ayah merinduku? Kemarin aku membenci mu, seminggu lalu aku juga membencimu, dan sekarang aku lebih benci karna terus merindukanmu. Mata sembab ku tidak pernah cukup untuk menghentikan rinduku padamu, air mataku belum cukup untuk membawamu disini, sekali saja datang menghibur mimpi ku sepertinya kau enggan. Begitu tidak penting nya kah aku? 

 Aku iri pada ibu karna ia lebih dulu bisa mengambil hatimu dari pada aku. Aku iri pada kedua kakak ku karna ia lebih lama bisa merasakan kasih sayang mu, kata Ibu dulu kau menyukai musik seperti diriku saat ini, benarkah itu? Kata kakak kau suka marah kepada nya tapi tidak terhadapku, mengapa begitu?.  Hanya aku disini yg tidak banyak mengenalmu, hanya aku yang hingga saat ini masih meragukan kasih sayang mu, hanya aku yg sampai detik ini yang belum menerima penjelasan dari mu.

Semua bayang mu mengusik ketenanganku, perbedaan antara rindu dan benci yang tidak bisa aku lihat, semakin aku membenci mu semakin aku rindu dan semakin aku merindu mu semakin aku benci itu.  Takdir tidak memberiku waktu yang cukup untuk mengenal bagaimana dirimu, entah aku yang bodoh karna tidak bisa mengingat kenangan 13 tahun lalu atau memang garis Tuhan sudah ditentukan begini aku tidak tau Tapi ada satu hal yang ku tau bahwa Kata orang-orang ayah dan aku memiliki garis muka yang mirip, itu satu kehormatan bagiku.

Aku marah tapi sepertinya kau lebih marah hingga tidak mau menemuiku dalam mimpiku. Aku tidak berharap kau menemuiku tiap hari karna aku tau semakin aku melihatmu semakin terluka sakitku, aku pun tidak berharap kau datang tiap minggu karna kemungkinan besar aku akan meminta lebih dari sekedar pertemuan, aku bahkan tidak meminta untuk datang tiap bulan karna aku tau aku akan selalu menantimu selama 30 hari itu, cukup datang lah setaun sekali. Hanya itu. Hanya sekali. Jadilah kado terindah yang tiap taun aku impikan, untuk bertemu tak apa bila selama 12 bulan aku harus menumpuk kerinduanku, selama 365 hari masih bisa ku kendalikan rasa inginku untuk mengenalmu lebih jauh. Maaf aku terlalu memaksa takdir, maaf aku tidak sebaik ibu dan kakak yg bisa merindumu tanpa harus membenci mu. 

Maaf aku masih merindukan mu hingga detik ini. Datang lah untuk peri kecil mu ini, jangan biarkan aku berprasangka buruk terhadapmu. sekali lagi maafkan putrimu yang masih egois dan belum bisa memahami takdir ini ayah, aku merindumu malam ini.


0 Comments