Another chapter about coffee

Coffe selalu menyeretku ke dalam malam yg lebih dingin. Lambat tapi pasti ia mulai menguasai angin tepat pukul 12:11 ini. Aku tau ia tidak bermaksud, ia hanya melintas untuk memberikan bayangan tak pasti. Membuatku suntuk dan bertanya mengenai maksud dan tujuan kehadirannya malam ini, walaupun dunia pun tau bahwa ketika ia datang untuk yang kesekian kalinya aku suka. Coffe tidak pernah menawarkan asam, apa lagi pedas, namun ia tidak sepenuhnya pahit.

Sesungguhnya barang kali pada suatu masa bahwa kopi merupakan pasti, ia manis jika diberi gula dan tentu rasa aslinya adalah pahit. Namun aku bodoh dengan angan ku sendiri, aku tertipu membayangkan bagaimana rasanya. Masih dengan cangkir yang sama namun jika dituang untuk kali kedua rasanya sudah berbeda, anehnya jika besok kamu tidak meminumnya kau akan merana. Pembodahan akan coffe yang sudah pasti. Ia terus menerus mengusik hidup mu, tidak untuk memberi harapan palsu namun harapan itu kamu yg ciptakan sendiri. Kafein dalam coffe tiap detik menyita perhatianmu.

Ketergantungan antara menselaraskan rutinitas dan asupan kafein mu semuanya hanyalah alasan belaka sesungguhnya kamu bisa namun kamu tidak mencoba. Dan sekarang dengan bodohnya kamu masih menuangkan coffe yang sama tanpa ragu untuk berfikir ulang, hanya pahit dan manis lalu apa yg kau duga?  Semua prasangka sudah nyata hanya km yang menyangkal kenyataanya. Untuk apa sesuatu yg sudah pasti masih dipertanyakan? Kamu yg bodoh namun coffe  tidak.

0 Comments