Peran dalam Panggung Pertunjukan

Sebuah panggung megah berhiaskan kegeloraan duniawi, masing-masing orang sibuk mepersiapkan peranya sendiri mencoba berperan sebagus mungkin berharap mencuri hati para penonton, malam ini pangung pertunjukan terasa sesak, tiap orang beradu kebolehan sekarang. Sedangkan dilain sisi aku memperhatikan salah satu pertunjukan sederhana, kali ini ia beradu peran sendirian, ia bercerita bahwa dia dulu seorang bocah kecil yang  memenangkan segalanya, bersorak gembira saat yang lain tertawa, bermain bersama menunjukan sisi keriangannya, tanpa beban, tanpa tau bahwa ada terselip takdir pahit kecil disela hidupnya. Peran yang bagus bukan? Siapa sangka bahwa terkadang takdir pun menunjukan sisi jahatnya. 

Sekarang bocah kecil itu telah sendiri, ia musnah dimakan sang takdir, sesekali ia hanya bisa membayangkan kenangan yang muncul ketika ia masih menjadi peri kecil sang pelipur lara bagi orangtua nya. Bohong. Semua peran yang tadi ia susun dengan rapi itu hanyalah imajinasi. Terkadang bocah kecil itu berteriak menanyakan kejelasan apa yang sedang terjadi saat ini, namun semakin ia berteriak kencang, dia semakin tidak mendengar kejelasan antara pertanyaan dan takdir yang sekarang beruntutan mendatangi bocah kecil itu meninggalkan traumatis mengasihani diri sendiri.

Kali ini kuda yang ia tunggangi roboh, kepercayaan yang selama ini dia banggakan ternyata semua hanya ilusi. Dinding batas antara rindu dan benci semua itu hanyalah halusinasi, nyatanya seorang petualang di alam lepas tidak bisa membedakan antara oksigen dan karbondioksida padahal keduanya sungguh berbeda. Makin hari dia semakin menyadari bahwa hidup tidak semudah seperti yang ada dalam mimpi nya dulu, logika logika tak berujung yang tidak dapat di mengerti, dan bahasa kesengsaraan yang kini makin bisa di pahami, serta dunia yang makin hari semakin menenggelam kan nya kedalam keterpurukan duniawi sekarang sudah dapat diatasi.

Jika ditelusuri bahwa bocah kecil itu yang bodoh karna hanya menyangkal adanya takdir. Lalu apa yang bisa dilakukan nya lagi? Yang bisa dilakukan hanyalah menerima. Hanya itu. Dunia memang panggung sandiwara dimana manusia harus memerankan peran tertentu, entah menjadi antagonis ataupun protagonis tugas sang pemeran hanya perlu memerankannya dengan baik.


0 Comments