Pilihan?

Pesan mu masih sering kamu kirimkan untuk ku, walaupun hanya sekedar menyapa atau pun saling menanyakan kabar dan aku hanya sesekali membalasnya terkadang malah aku hanya iseng membacanya saja, hampir 6 bulan ini kamu tidak pernah terlambat untuk menghubungi ku, sesekali terkadang kamu mengirim gambar ataupun voice note yang sebenarnya membuatku risih dan canggung, dan pada malam hari kamu juga terkadang memintaku untuk menjawab telepon yang sengaja ku hindari sedang mencari-cari alasan-alasan tak logis agar aku tidak bisa menjawab teleponmu. Aku jahat bukan?

Maafkan lah aku yang belum sempat menempatkan mu di bagian lainnya, karna sekarang aku masih terlalu sibuk untuk membereskan diriku sendiri, dan hati ku masih sulit untuk menerima orang lain sebagai penggantinya, aku tidak ingin melukai mu dengan berpura-pura mencintai mu atau apapun itu, karna aku tau rasanya disakiti maka dari itu aku tidak akan menyakiti mu. Lebih baik seperti ini menutup hatiku rapat-rapat untuk siapapun, tanpa terkecuali hingga waktunya tiba dimana aku sudah lelah untuk menunggu dan akhirnya luka ku sembuh dengan obat hati yaitu waktu.

Bagi ku lebih sulit untuk berpura-pura mencintai seseorang dari pada berpura-pura untuk tidak mencintai seseorang, ah tidak! Semuanya terasa sulit ku lakukan. Kamu adalah sosok yang paling sabar dari semua orang yang ku kenal, bahkan mungkin kamu jauh lebih sabar dibandingkan dengan ku. Kamu memiliki segalanya, kamu mungkin adalah kriteria lelaki yang aku idamkan selama ini, kamu jauh lebih baik dibandingkan dengan lelaki itu, lelaki yang semalam tanpa sengaja masuk menyelinap ke dalam mimpi ku. Pernah aku mencoba untuk membuka hati untuk mu, bukan karena ku kasihan akan tetapi karena aku menghargai perasaan mu terhadapku, namun apa yang terjadi? Nihil! Aku tidak bisa memilih mu untuk bersanding dengan ku, bukan apa-apa tapi menurut ku kamu tidak layak untuk ku permainkan perasaannya demi memenuhi rasa penasaranku apakah ini salah satu cara untuk melupakan dia atau tidak, dia seseorang yang sama sekali tidak ada habisnya untuk ku cintai.

Aku salah sangka pada diriku sendiri, aku bodoh, aku terlalu larut mencintai sehingga sampai aku lupa caranya untuk menghargai seseorang yang mencintai ku. Egois, sungguh egois, aku adalah manusia teregois di dunia ini, mementingkan perasaan diri sendiri, lebih memilih mencintai seseorang yang jelas-jelas sudah menyakiti, lebih memilih menunggu seseorang yang tidak ingin ditunggu.

Aku hanya tidak ingin lebih banyak menyakiti diriku sendiri, semakin aku paksakan untuk membuka hati namun ia semakin tak terganti, semakin aku paksakan untuk melupakan namun ia semakin teragungkan. Kalo hati bisa memilih, aku akan memilih untuk mencintai mu. Kalo hati bisa menentukan aku akan menentukan hidupku hanya untuk mu. Kalo hati bisa menjawab, aku akan bertanya. Mengapa aku harus mencintainya dan bukan mencintai mu?

0 Comments